nusantaramerdeka.id — PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga tiga jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi secara signifikan mulai Sabtu, 18 April 2026, sebagai dampak langsung dari lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Penyesuaian harga ini menyasar produk bahan bakar premium yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dengan persentase kenaikan yang cukup drastis di kisaran 48 hingga 68 persen.
Langkah ini mengejutkan publik mengingat sebelumnya pemerintah dan otoritas terkait sempat menyangkal adanya rumor kenaikan harga BBM pada awal April lalu demi menjaga stabilitas nasional.
Namun, kenaikan kali ini dipastikan hanya berlaku untuk jenis nonsubsidi tertentu, sementara harga BBM penugasan dan subsidi seperti Pertalite serta Biosolar tetap tidak mengalami perubahan.
Lonjakan Harga Global Paksa Penyesuaian Harga Domestik
Keputusan penyesuaian harga ini mengacu pada Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 mengenai formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis BBM umum.
Pertamina menyatakan bahwa fluktuasi harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mencapai level yang mengharuskan adanya penyesuaian nilai jual eceran di tanah air.
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada Kepmen ESDM, dan keputusan penyesuaian harga hanya berlaku pada Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex, ungkap Muhammad Baron, VP Corporate Communication Pertamina, pada 18 April 2026.
Pihak Pertamina juga menambahkan bahwa kebijakan ini diambil dengan mempertimbangkan dinamika pasar internasional yang sangat cair dalam beberapa pekan terakhir.
Komitmen Jaga Daya Beli dan Stabilitas Ekonomi
Meski tiga produk premium mengalami kenaikan tajam, pemerintah memastikan bahwa jenis BBM yang paling banyak dikonsumsi masyarakat luas seperti Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 tetap dipertahankan pada harga lama.
Upaya ini dilakukan agar kondisi ekonomi riil dan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan inflasi global yang terus menghantui sektor transportasi dan logistik.
Sedangkan harga Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 tetap, agar kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga, jelas Muhammad Baron lebih lanjut dalam keterangan resminya.
Hingga saat ini, harga Pertalite masih dipatok pada angka Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter, sejalan dengan janji Menteri Keuangan untuk terus menyalurkan subsidi hingga akhir tahun anggaran. ***