nusantaramerdeka.id — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mencapai titik kritis usai serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi menghantam wilayah Irak pada Rabu, 28 Juli 2026. Operasi militer ini menewaskan sedikitnya empat anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran serta 20 anggota milisi lokal.
Aksi militer secara terbuka tersebut berisiko memicu reaksi balasan skala besar dari Teheran dan memperluas skala pertempuran kawasan. Kantor berita Mehr mengonfirmasi tewasnya personel IRGC, sementara dewan keamanan setempat menggelar rapat darurat merespons pelanggaran kedaulatan ini.
Perlawanan Tanpa Tunduk Pada Agresi
Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara tegas menyerukan mobilisasi ketahanan nasional bagi seluruh rakyatnya untuk menolak segala bentuk ketidakadilan asing. Pernyataan mendesak ini dirilis resmi oleh kantor berita IRNA tak lama setelah kabar jatuhnya korban jiwa dari pihak militer Teheran.
Pezeshkian menekankan komitmen pertahanan nasionalnya tanpa mengorbankan prinsip keadilan internal di tengah tekanan militer luar. Ia menyebut keteguhan tersebut sebagai identitas mendasar bangsa.
“Melawan musuh dan berdiri teguh menghadapi mereka agar kita tidak tunduk pada ketidakadilan dan penindasan,” ujar Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu, 28 Juli 2026.
Trump Ancam Balasan Lebih Keras
Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump memastikan aksi militer ini merupakan balasan langsung atas penyerangan aset militer Washington di Yordania. Ia menegaskan tidak akan menarik mundur armada tempur dari zona konflik.
Eskalasi makin meluas setelah insiden serangan pesawat nirawak menghantam kapal tanker gas milik AS di Pelabuhan Damietta, Mesir. Wilayah udara dan perairan Teluk kini berada dalam tingkat kewaspadaan tertinggi. ***