Gurita Bisnis Grup Djarum Makin Lebar, dari Rokok hingga Media Digital

Grup Djarum

NusantaraMerdeka.id – Grup Djarum tak lagi hanya identik dengan bisnis rokok. Di bawah keluarga Hartono, gurita bisnis itu telah merambah perbankan, properti, elektronik, telekomunikasi, perkebunan, ekonomi digital, kesehatan, makanan dan minuman, hingga media, sementara investasi di luar negeri sedikitnya mencapai US$1,4 miliar atau sekitar Rp24,9 triliun melalui sejumlah entitas yang terkait dengan keluarga tersebut.

Di dalam negeri, ekspansi juga terus berjalan. Akuisisi Narasi melalui kendaraan investasi GDP Venture pada September 2026 menjadi salah satu perkembangan terbaru yang memperlihatkan semakin luasnya portofolio bisnis keluarga Hartono.

Grup Djarum Dibangun dari Bisnis Rokok

Bisnis keluarga Hartono berawal dari industri rokok Djarum di Kudus, Jawa Tengah. Setelah Oei Wie Gwan meninggal pada 1963, bisnis tersebut diteruskan dua putranya, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono.

Dari bisnis tembakau, keluarga Hartono kemudian memperluas usaha ke berbagai sektor. Perbankan melalui Bank Central Asia (BCA), elektronik melalui Polytron, properti, perkebunan, telekomunikasi dan teknologi menjadi bagian dari perjalanan diversifikasi tersebut.

BCA kemudian berkembang menjadi salah satu aset terbesar dalam portofolio keluarga. Setelah Michael Bambang Hartono meninggal pada Maret 2026, Robert Budi Hartono menjadi satu-satunya pemegang saham pengendali terakhir BCA melalui struktur kepemilikan PT Dwimuria Investama Andalan.

Perubahan tersebut dicatat Otoritas Jasa Keuangan pada akhir Juli 2026 dan kemudian diumumkan BCA pada awal Agustus. Pergantian struktur pengendali itu berlangsung ketika bisnis keluarga Hartono sendiri semakin tersebar ke berbagai sektor.

Grup Djarum Merambah Telekomunikasi dan Digital

Salah satu ekspansi penting terjadi di sektor telekomunikasi. Keluarga Hartono memiliki eksposur melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), yang memperkuat posisi grup dalam bisnis infrastruktur telekomunikasi.

Di sektor digital, keluarga Hartono membangun GDP Venture sebagai kendaraan investasi dan pengembangan bisnis. Salah satu aset publik yang lahir dari ekosistem ini adalah PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli, yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2022.

Ekspansi digital kemudian bergerak ke media. Pada September 2026, PT Global Digital International (GDI), kendaraan investasi di bawah GDP Venture, mengambil alih PT Narasi Citra Sahwahita, perusahaan yang menaungi media digital Narasi.

Baca Juga :  Rupiah Jeblok Tembus 17.600, BI Gempur Pasar Valas Lintas Benua

Berdasarkan dokumen korporasi yang dilaporkan DealStreetAsia, GDI menguasai 6.910 dari 6.911 saham Narasi Citra Sahwahita atau sekitar 99,99 persen. Satu saham lainnya dimiliki PT Merah Cipta Media, entitas yang juga terafiliasi dengan Grup Djarum. Nilai transaksi tidak diumumkan kepada publik.

Masuknya Narasi bukan titik awal keterlibatan Grup Djarum di media digital. GDP Venture sebelumnya telah menjadi investor Narasi, sementara GDI juga digunakan sebagai kendaraan investasi pada media digital Kumparan. Akuisisi tersebut membuat eksposur grup di sektor media menjadi semakin nyata.

Bisnis Kesehatan hingga Makanan Ikut Masuk

Diversifikasi Grup Djarum juga merambah sektor kesehatan. Pada Juni 2025, PT Dwimuria Investama Andalan membeli 559,19 juta saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), setara sekitar 3,63 persen saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp1,05 triliun.

Posisi tersebut menjadikan keluarga Hartono sebagai pemegang saham minoritas di Hermina. Artinya, investasi tersebut memberikan eksposur terhadap bisnis rumah sakit tanpa menjadikan Grup Djarum sebagai pengendali perusahaan.

Di sektor makanan dan minuman, keluarga Hartono masuk melalui akuisisi mayoritas PT Griya Mie Sejati, pengelola jaringan Bakmi GM. Sementara di bisnis ritel, portofolionya mencakup PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), pengelola jaringan Ranch Market.

Pola tersebut memperlihatkan karakter diversifikasi keluarga Hartono yang tidak selalu dilakukan dengan mengambil alih perusahaan secara penuh. Sebagian investasi ditempatkan sebagai kepemilikan minoritas, sementara pada sektor lain grup mengambil posisi pengendali.

Properti dan Kawasan Industri Jadi Portofolio Lain

Di sektor properti, Grand Indonesia menjadi salah satu aset yang selama bertahun-tahun berada dalam portofolio keluarga Hartono. Ekspansi kemudian berlanjut ke kawasan industri melalui keterlibatan di PT Suryacipta Swadaya, anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).

Keterlibatan tersebut semakin terlihat di pasar modal. Kendaraan investasi keluarga Hartono, PT Dwimuria Investama Andalan, secara bertahap mengakumulasi saham SSIA dan pada 17 September 2026 tercatat memiliki 482 juta saham atau sekitar 10,24 persen.

Selain menambah kepemilikan, Grup Djarum juga melakukan restrukturisasi aset. PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) disiapkan untuk keluar dari Bursa Efek Indonesia setelah PT Iforte Solusi Infotek, anak usaha TOWR, menjadi pengendalinya.

Baca Juga :  Kejagung Tahan Langkah Bos Djarum, Negara Tegaskan Hukum Tak Mengenal Privilege

Manajemen iForte menyebut perubahan menjadi perusahaan tertutup merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membuat pengelolaan aset dan operasional dalam grup menjadi lebih efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa ekspansi Grup Djarum tidak selalu berarti menambah perusahaan baru, tetapi juga menyusun kembali aset yang sudah dimiliki.

Grup Djarum Mulai Membangun Bisnis di Luar Negeri

Setelah memperluas portofolio di Indonesia, keluarga Hartono juga meningkatkan investasi di luar negeri. Laporan Bloomberg yang dikutip sejumlah media menyebut sedikitnya sembilan entitas berbasis di Singapura dan London yang terkait dengan keluarga Hartono telah melakukan investasi sedikitnya US$1,4 miliar sejak akhir 2023.

Salah satu transaksi terbesar dilakukan Evergreen Hill Enterprise. Pada akhir 2023, entitas tersebut mengakuisisi bisnis specialty paper di Amerika Serikat senilai US$669 juta.

Sekitar setahun kemudian, Evergreen Hill kembali melakukan akuisisi dengan membeli produsen cigarette paper di Austria seharga sekitar €360 juta atau US$418 juta. Dua transaksi itu saja bernilai lebih dari US$1 miliar.

Investasi luar negeri tersebut tidak seluruhnya berupa pemindahan uang dari Indonesia untuk membeli aset asing. Nilai US$1,4 miliar merupakan akumulasi investasi yang dilakukan melalui sejumlah entitas terkait keluarga Hartono di luar negeri.

Manajemen Djarum menyatakan sekitar 90 persen investasi keluarga Hartono masih berada di Indonesia. Corporate Communications Manager PT Djarum Budi Darmawan juga menilai ekspansi ke luar negeri merupakan bagian dari diversifikasi bisnis yang telah berlangsung, bukan pemindahan pusat bisnis dari Indonesia.

Grup Djarum Masuk Sepak Bola Italia

Portofolio keluarga Hartono juga telah menyeberang ke industri olahraga. Melalui SENT Entertainment, keluarga Hartono mengakuisisi klub Italia Como 1907 pada 2019.

Investasi tersebut kemudian mendapat sorotan lebih luas ketika Como 1907 kembali tampil di Serie A pada 2024. Masuknya klub sepak bola Italia melengkapi diversifikasi keluarga Hartono yang sudah mencakup sektor bisnis dan konsumen sekaligus aset olahraga.

Dengan begitu, ekspansi keluarga Hartono tidak hanya berbicara tentang penambahan perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Ada pula bisnis privat, perusahaan teknologi, kendaraan investasi, aset luar negeri dan kepemilikan di perusahaan yang beroperasi di sektor berbeda.

Baca Juga :  Menkeu Purbaya Kena Semprot DPR Tabrak UU APBN Soal SAL Rp200 Triliun

Dari Djarum ke Ekosistem Bisnis Keluarga Hartono

Jika melihat rentang bisnis tersebut, nama Djarum kini hanya menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang jauh lebih besar. Rokok merupakan bisnis yang membangun kekayaan keluarga, tetapi modal yang terbentuk kemudian digunakan untuk masuk ke perbankan, infrastruktur, digital, properti, kesehatan, makanan, ritel hingga media.

Perbedaan karakter setiap investasi juga terlihat dari cara keluarga Hartono menempatkan modal. BCA menjadi aset strategis dengan posisi pengendali, sementara Hermina merupakan investasi minoritas. Di sektor digital, GDP Venture berperan sebagai kendaraan untuk membangun dan mengembangkan berbagai bisnis.

Pola tersebut membuat ekspansi keluarga Hartono tidak bergantung pada satu model transaksi. Ada akuisisi penuh, kepemilikan pengendali, investasi minoritas, pembangunan bisnis baru hingga investasi melalui perusahaan kendaraan.

Di pasar domestik, besarnya basis tersebut masih terlihat dari sejumlah perusahaan publik yang terkait dengan keluarga Hartono. BCA menjadi salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, sementara TOWR dan BELI memperlihatkan eksposur keluarga tersebut pada infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital.

Di luar perusahaan terbuka, masih terdapat bisnis privat seperti Djarum dan Polytron serta berbagai aset properti. Karena itu, nilai investasi luar negeri US$1,4 miliar perlu ditempatkan dalam konteks portofolio yang jauh lebih besar dan masih sangat kuat di Indonesia.

Ekspansi ke luar negeri pada akhirnya membuka lapisan baru bagi keluarga Hartono. Investasi specialty paper di Amerika Serikat dan produsen cigarette paper di Austria memiliki hubungan dengan rantai industri yang telah lama dikenal keluarga tersebut, sekaligus membuka akses terhadap pasar global.

Pada saat yang sama, ekspansi domestik belum berhenti. Grup Djarum tetap menambah portofolio di sektor digital, media, kawasan industri dan bisnis konsumen, sehingga arah perkembangannya lebih menyerupai perluasan ekosistem daripada perpindahan dari satu bisnis ke bisnis lainnya.

Perkembangan terbaru di Narasi memperlihatkan pola itu dengan jelas. Akuisisi melalui GDI memperkuat posisi keluarga Hartono di media digital, sementara investasi luar negeri menunjukkan bahwa ekspansi kini tidak hanya berlangsung lintas sektor, tetapi juga lintas negara.