Rupiah Jeblok Tembus 17.600, BI Gempur Pasar Valas Lintas Benua

nusantaramerdeka.id — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ambruk hingga mencetak rekor terlemah baru dalam sejarah di level Rp17.612 per dolar AS pada perdagangan intraday Jumat (15/5). Menanggapi guncangan hebat ini, Bank Indonesia mengambil langkah radikal dengan menggempur pasar valuta asing secara terintegrasi di empat pusat keuangan global demi menahan kejatuhan mata uang Garuda.

Langkah ofensif ini diambil demi memutus rantai spekulasi global di pasar nondeliverable forward internasional saat pasar domestik sedang libur panjang. Tekanan hebat dari lonjakan harga minyak mentah dunia dan konflik Selat Hormuz memaksa otoritas moneter bertindak di luar batas normal.

Kedaulatan ekonomi nasional harus dipertahankan dengan segala kekuatan yang ada. Negara tidak boleh tunduk pada dikte sentimen pasar global yang agresif.

Bank Indonesia menegaskan tidak akan membiarkan rupiah terus diperdagangkan di bawah nilai wajarnya akibat kepanikan investor luar negeri. Amunisi cadangan devisa langsung dikerahkan untuk melakukan stabilisasi harian secara masif.

Otoritas moneter memindahkan medan pertempuran valuta asing ke pasar internasional demi menetralisir aksi jual kosong terhadap mata uang rupiah. Intervensi besar-besaran dilakukan secara simultan dari Asia hingga Amerika Serikat.

Baca Juga :  Rupiah Remuk Rp17.600, DPR Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur

Langkah ini menjadi pembuktian bahwa bank sentral siap pasang badan menghadapi kepanikan pasar finansial global. Operasi nonkonvensional ini menyasar pusat perdagangan valas utama dunia untuk memberikan efek kejut bagi para spekulan.

“Hong Kong kami intervensi, Singapura kami intervensi, London kami intervensi, New York kami intervensi. Itu namanya bukan business as usual, itu all out,” tegas Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (7/5).

Selain melakukan intervensi langsung, Bank Indonesia juga memperketat aturan main pembelian mata uang asing di dalam negeri. Batasan pembelian dolar AS tanpa underlying bagi individu dipangkas separuh untuk mencegah pelarian modal domestik.

Kuota yang semula sebesar 100.000 dolar AS per orang setiap bulan kini dipotong paksa menjadi maksimal 50.000 dolar AS saja. Langkah restriktif ini diambil guna memastikan pasokan dolar di pasar spot lokal tidak terkuras oleh aksi borong musiman.

“Masyarakat yang menggunakan dolar dalam transaksi itu apa? Yang selama ini bahan bakunya impor, dan salah satu yang impor yang kita khawatirkan adalah impor dari komoditas penopang pertumbuhan ekonomi,” ujar Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun pada Minggu (17/5).

Baca Juga :  Rial Iran Ambruk, Rp 20 Ribu Kini Setara 1,3 Juta IRR

Ketegasan sikap otoritas ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia siap menghadapi badai ekonomi global dengan segala risiko fiskal yang ada. Pemerintah dan bank sentral kini merapatkan barisan demi menjaga stabilitas harga di tingkat masyarakat bawah. ***