Harga Minyak Dunia Tembus 109 Dolar AS Akibat Selat Hormuz Ditutup

Ilustrasi Kenaikan Harga Minyak Dunia

nusantaramerdeka.id — Harga minyak mentah jenis Brent meroket hingga menyentuh angka 109,03 dolar AS per barel pada Kamis (02/04/2026) akibat eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang memicu penutupan Selat Hormuz.

Lonjakan sebesar 7,78 persen dalam satu hari ini merupakan level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir, mengancam stabilitas energi global. Iran menutup jalur chokepoint yang menguasai 20 persen pasokan minyak dunia tersebut sebagai respons atas operasi militer Amerika Serikat dan Israel.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah tetap menjaga stabilitas harga di dalam negeri meskipun tekanan pasar global kian berat.

“Pemerintah atas arahan presiden dan hasil rapat, penyesuaian harga untuk BBM subsidi tidak ada penyesuaian naik ataupun turun artinya flat,” ujar Bahlil pada 2 April 2026.

Keputusan ini diambil untuk melindungi daya beli masyarakat di tengah risiko inflasi yang membayangi ekonomi nasional. Negara berkomitmen menambah anggaran subsidi guna menambal selisih harga pasar yang terus menjauh dari asumsi awal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca Juga :  Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Ancaman Resesi Global Mengintai

Ancaman Fiskal dan Ketahanan Energi Nasional

Kenaikan harga komoditas ini memberikan tekanan hebat pada postur fiskal Indonesia mengingat status negara sebagai importir neto minyak sejak 2003. Berdasarkan analisis INDEF, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi memperlebar defisit fiskal hingga 400 juta dolar AS.

Ketergantungan pada impor sekitar 800.000 barel per hari menjadikan Indonesia sangat rentan terhadap volatilitas harga di pasar internasional. Namun, pemerintah menjamin bahwa stok BBM nasional saat ini masih dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan domestik hingga beberapa bulan ke depan.

Jaminan Harga Tetap Hingga Masa Lebaran

Pemerintah memberikan kepastian bahwa harga Pertalite dan Solar subsidi tidak akan mengalami kenaikan, setidaknya hingga masa libur Lebaran pada Mei 2026 mendatang. Langkah strategis ini bertujuan untuk meredam kepanikan publik dan memastikan distribusi logistik nasional tetap berjalan lancar tanpa hambatan biaya energi.

Bahlil Lahadalia meminta masyarakat untuk tidak melakukan aksi borong atau panic buying karena pasokan Pertamina telah disiagakan di seluruh wilayah.

Baca Juga :  Stok BBM Nasional Aman 21 Hari di Tengah Konflik Iran

“Tapi sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana-gimana menyangkut dengan harga, karena sampai dengan Hari Raya ini Insya Allah tidak ada kenaikan harga BBM,” tegasnya.

Resiliensi ekonomi Indonesia saat ini masih didukung oleh cadangan devisa yang kuat sebesar 151,9 miliar dolar AS sebagai bantalan terhadap turbulensi pasar. Fundamental domestik yang ekspansif diharapkan mampu menyerap guncangan eksternal ini hingga konflik di Timur Tengah mencapai titik negosiasi. ***