nusantaramerdeka.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles ke terendah baru 2026 pada paruh pertama perdagangan hari ini, Rabu, 20 Mei 2026. Indeks acuan pasar modal domestik tersebut sempat menyentuh posisi kritis 6.282,15 di satu jam pertama sebelum akhirnya ditutup anjlok 94,76 poin atau 1,49 persen ke level 6.275 pada akhir Sesi I.
Kejatuhan tajam ini terjadi secara simultan ketika Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato ekonomi terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 di Gedung DPR RI. Para pelaku pasar modal tampak merespons dinamis arah kebijakan fiskal nasional di tengah bayang-bayang pelemahan indikator ekonomi makro yang terus menekan performa portofolio investasi.
Koreksi masif kali ini melanda hampir seluruh lini bisnis di papan perdagangan bursa, dengan sektor energi dan bahan baku (basic materials) memimpin kejatuhan masing-masing sebesar 6,94 persen dan 7,3 persen. Kondisi ini diperparah oleh tren pelemahan nilai tukar rupiah yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah terdepresiasi ke kisaran Rp17.730 per dolar AS. “Ketika rupiah terus melemah bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham, maka tekanan terhadap IHSG biasanya akan menjadi lebih besar,” ujar analis pasar modal Hendra saat memberikan proyeksi harian, Rabu, 20 Mei 2026.
Penurunan indeks bursa domestik dalam tiga hari berturut-turut ini juga terimbas oleh sentimen negatif Wall Street yang tertekan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi global. Investor cenderung membatasi eksposur pada aset berisiko tinggi di pasar berkembang dan mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Tekanan jual yang masif menempatkan posisi support teknikal IHSG kian rentan untuk menembus batas psikologis yang lebih rendah jika tidak ada intervensi kebijakan yang kuat. Konsensus pasar kini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan mengumumkan posisi BI Rate pada pukul 14.00 WIB siang ini. Sejumlah ekonom memproyeksikan adanya potensi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin demi menstabilkan volatilitas valuta asing dan menahan arus modal keluar (capital outflow).
Meskipun laju transaksi harian terbilang tinggi, kepastian regulasi dari otoritas moneter menjadi kunci utama untuk meredam potensi aksi jual panik (panic selling). Pemulihan stabilitas pasar saham domestik dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada efektivitas bauran kebijakan makroprudensial yang diambil pemerintah. ***