nusantaramerdeka.id — Angkatan Udara Austria mengerahkan jet tempur Eurofighter Typhoon untuk mencegat dan mengusir dua pesawat militer Amerika Serikat yang melanggar wilayah kedaulatan udara mereka secara ilegal.
Aksi tegas ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik Austria-AS menyusul sikap Wina yang konsisten menolak terlibat dalam logistik militer Perang AS-Iran pada Senin, 11 Mei 2026.
Insiden ini menandai konfrontasi langsung kedua dalam waktu 24 jam setelah pesawat pengintai jenis PC-12/U-28A Draco milik AS terdeteksi di atas Pegunungan Austria Hulu.
Pemerintah Austria di bawah kepemimpinan Wakil Kanselir Andreas Babler menegaskan tidak akan memberi toleransi bagi pihak manapun yang mencoba menyeret negara netral tersebut ke dalam pusaran konflik Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Austria, Michael Bauer, mengonfirmasi bahwa militer segera meningkatkan status respons ke tingkat tertinggi saat pesawat asing tersebut terdeteksi.
“Pesawat AS masuk tanpa izin diplomatik yang wajib. Intersepsi dilakukan di bawah prosedur ‘Priority A’, tingkat respons tertinggi bagi polisi udara nasional,” ujar Michael Bauer melalui pernyataan resminya pada 12 Mei 2026.
Langkah berani Austria ini merupakan implementasi nyata dari kebijakan penutupan wilayah udara bagi seluruh pihak yang terlibat perang sejak Maret 2026 lalu.
Austria menolak menjadi jalur transit bagi mesin perang AS, sebuah sikap yang sebelumnya juga diambil oleh negara Eropa lainnya seperti Swiss dan Italia demi menjaga prinsip netralitas.
Operasi intersepsi pada Senin siang pukul 12.31 waktu setempat tersebut memaksa pesawat militer AS melakukan manuver balik arah menuju Munich, Jerman.
Pesawat U-28A Draco milik Skuadron Operasi Khusus ke-319 AS ini dikenal memiliki kemampuan intelijen sinyal (SIGINT) canggih yang biasanya digunakan untuk misi pengintaian tak kasat mata.
Keputusan Wina untuk mempublikasikan insiden ini secara transparan menunjukkan perubahan paradigma politik yang lebih berani dalam menghadapi tekanan negara adidaya.
Sejarah mencatat pada 2002, AS pernah mencoba menyusupkan jet siluman F-117A di wilayah Austria dengan bersembunyi di bawah radar pesawat tanker, namun kini militer Austria jauh lebih waspada.
Wakil Kanselir Andreas Babler secara tegas menyatakan bahwa posisi negaranya sudah final dalam menjaga perdamaian di tanah Eropa meskipun mendapat kecaman dari Washington.
“Netralitas adalah aset berharga di negara kita. Tidak untuk perang,” tegas Andreas Babler dalam pernyataan yang dikutip pada 10 Mei 2026.
Ketegangan diplomatik Austria-AS diprediksi akan semakin memanas mengingat Presiden AS Donald Trump baru-baru ini melayangkan kritik keras terhadap sekutu Eropa.
Pemerintah Austria sendiri menyatakan akan menyelesaikan pelanggaran kedaulatan udara ini melalui jalur diplomatik resmi untuk menuntut penjelasan dari Pentagon. ***