nusantaramerdeka.id — Penembakan massal di Sekolah Menengah Ayser Çalık, Kahramanmaraş, Turki, pada Selasa, 15 April 2026 pukul 13:30 waktu setempat, menewaskan sembilan orang termasuk delapan siswa dan seorang guru matematika.
Aksi brutal ini dilakukan oleh İsa Aras Mersinli, seorang siswa kelas 8 berusia 14 tahun, menggunakan lima senjata api milik ayahnya yang merupakan mantan polisi. Pelaku akhirnya tewas bunuh diri setelah memberondongkan peluru di halaman dan ruang kelas.
Tragedi ini mencatatkan sejarah kelam sebagai penembakan sekolah paling mematikan yang pernah terjadi di wilayah kedaulatan Turki. Insiden berdarah di Kahramanmaraş ini meletus hanya berselang 28 jam setelah serangan serupa terjadi di sekolah kejuruan Siverek, Şanlıurfa.
Ketegasan Pemerintah dan Penangkapan Ayah Pelaku
Aparat bergerak cepat dengan menangkap Uğur Mersinli, ayah pelaku yang merupakan mantan anggota kepolisian, pada Rabu, 16 April 2026 pukul 03:30 dini hari. Penangkapan ini terkait dengan kelalaian penyimpanan senjata api yang digunakan anaknya untuk membantai rekan sekolahnya.
Direktorat Kejahatan Siber Turki juga telah mengambil tindakan tegas terhadap 591 akun media sosial yang kedapatan menyebarkan konten provokatif pasca-insiden. Pemerintah menetapkan larangan siaran demi menjaga integritas investigasi yang kini ditangani oleh tujuh jaksa khusus.
Serikat Guru Mogok Nasional Menuntut Keamanan
Serikat Guru Eğitim-İş dan Eğitim-Sen langsung merespons tragedi ini dengan mengumumkan aksi mogok kerja nasional selama tiga hari sejak 15 hingga 17 April. Aksi ini merupakan bentuk protes sekaligus tuntutan agar pemerintah menjamin keamanan di lingkungan pendidikan.
Oposisi dari Partai CHP melalui juru bicara Zeynel Emre mendesak langkah konkret perlindungan siswa di seluruh penjuru negeri. “Kami mengusulkan penempatan 65.000 sersan khusus sebagai personel keamanan tetap di sekolah-sekolah Turki,” tegas Zeynel Emre dalam pernyataan resminya pada 15 April 2026.
Presiden Recep Tayyip Erdoğan telah menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya Ayla Kara, guru matematika yang tewas saat melindungi murid-muridnya. Saat ini, 13 korban luka masih dalam perawatan intensif dengan enam di antaranya berada dalam kondisi kritis.
Identitas siswa yang terkonfirmasi tewas antara lain Furkan Balal, Bayram Nabi Şişik, Belinay Poryaz, Zeynep Kılıç, Şuranur Sevgi Kazıcı, Kerem Erdem Gürgör, dan Adnan Göktürk Yeşil. Investigasi kini fokus pada aktivitas digital pelaku di platform Discord yang diduga menyimpan manifesto rencana serangan. ***