Blokade Hormuz dan Serangan Nuklir: Israel Kepung Arsitektur Ancaman Iran

Iron Dome Israel

nusantaramerdeka.id — Militer Israel kini memperluas operasi tempur ke lima front sekaligus guna meredam arsitektur ancaman Iran yang semakin agresif di kawasan Timur Tengah pada Mei 2026. Ketegangan memuncak pasca penutupan Selat Hormuz oleh Teheran sebagai respons atas tewasnya pemimpin tertinggi mereka dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu.

Konfrontasi ini menandai pergeseran radikal dari perang proksi menjadi benturan militer terbuka yang melibatkan kekuatan nuklir dan arsenal rudal balistik antarwilayah. Israel kini harus menghadapi pengepungan dari milisi Hezbollah di utara, Houthi di Yaman, hingga tekanan diplomatik keras dari Turki yang telah memutus total hubungan dagang.

Operasi Rising Lion yang dilancarkan Tel Aviv pada pertengahan 2025 menjadi bukti nyata bahwa Israel tidak lagi menoleransi ambisi nuklir Iran di pangkalan Lavisan-Shian. Laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi adanya aktivitas atom ilegal yang memicu konsensus pertahanan nasional Israel untuk mengambil tindakan militer langsung yang sangat berisiko.

“Ada konsensus nasional dan pertahanan yang luas, dan pemahaman bahwa ini bisa dilakukan — tidak hanya di bidang keamanan, tetapi juga di bidang diplomatik,” ujar Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada November 2024 saat merespons opsi serangan fasilitas nuklir. Pernyataan tegas ini menjadi dasar hukum bagi operasi penghancuran separuh peluncur rudal darat Iran dalam perang musim panas yang baru saja berlalu.

Baca Juga :  Kolombia Akui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, 7 Negara Arab Mengecam

Kejatuhan rezim Assad di Suriah pada awal 2026 secara dramatis memutus jalur logistik darat utama Iran ke Lebanon dan melumpuhkan rekonstituisi kekuatan Hezbollah. Meski demikian, Teheran tetap nekat mengalokasikan dana sekitar 1 miliar dolar pada 2025 untuk menyokong kelompok-kelompok bersenjata di perbatasan Israel guna mempertahankan pengaruhnya yang kian tergerus.

Pemerintah Iran secara resmi terus membantah tuduhan pengembangan senjata pemusnah massal melalui pernyataan juru bicara mereka pada April 2024. “Iran telah berulang kali menyatakan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai. Senjata nuklir tidak ada tempat dalam doktrin nuklir kami,” tulis pernyataan tersebut yang kini diragukan oleh intelijen Barat pasca temuan uranium di Turquzabad.

Ancaman strategis juga datang dari Ankara melalui instruksi Presiden Erdogan yang menghentikan perdagangan senilai 9,5 miliar dolar sebagai bentuk protes atas krisis kemanusiaan. Namun, supremasi udara Israel tetap tak tertandingi dengan kemampuan jangkauan operasi hingga 2.000 kilometer yang mencakup Damaskus, Baghdad, Teheran, hingga wilayah Yaman tanpa hambatan berarti. ***

Baca Juga :  Israel Bunuh Ali Larijani, Eskalasi Perang Iran Masuki Babak Baru