Kolombia Akui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, 7 Negara Arab Mengecam

Dataran Tinggi Golan

NusantaraMerdeka.id – Pemerintah Kolombia menuai kecaman dari tujuh negara Arab setelah mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan pada Senin (10/8/2026). Suriah, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Qatar, Irak, dan Kuwait menolak keputusan tersebut di tengah sengketa berkepanjangan mengenai status wilayah yang dikuasai Israel sejak 1967.

Keputusan Bogota dinilai berpotensi memperburuk hubungan diplomatik Kolombia dengan sejumlah negara Arab. Kolombia sendiri telah menormalisasi hubungan dengan Israel di bawah pemerintahan Presiden Abelardo de la Espriella.

Kolombia Akui Dataran Tinggi Golan sebagai Wilayah Israel

Kolombia secara resmi menyatakan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Pemerintah Kolombia juga menyatakan dukungan terhadap hak Israel untuk mempertahankan wilayah tersebut dari ancaman eksternal.

“Pemerintah Kolombia mengakui kedaulatan Israel atas wilayah ini (Dataran Tinggi Golan) serta hak negara tersebut untuk melindungi diri dari ancaman eksternal.”

Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Kolombia yang dikutip Al Jazeera, pengakuan tersebut dikaitkan dengan pandangan bahwa mempertahankan kendali dan kedaulatan Israel atas Golan merupakan bagian penting dari pertahanan nasional Israel.

Baca Juga :  Drone Ukraina Serang Moskow, Rusia Balas Gempur Wilayah Ukraina

Keputusan ini menjadi kontroversial karena status Dataran Tinggi Golan masih menjadi salah satu persoalan teritorial utama di Timur Tengah. Secara historis, wilayah tersebut merupakan bagian dari Suriah sebelum direbut Israel dalam Perang Enam Hari pada 1967.

Suriah dan Enam Negara Arab Kecam Keputusan Kolombia

Suriah menjadi salah satu negara yang paling keras menolak pengakuan tersebut. Damaskus menegaskan Dataran Tinggi Golan merupakan bagian integral dari wilayahnya dan menyatakan akan mempertahankan kedaulatan atas kawasan tersebut.

Selain Suriah, kecaman juga datang dari Arab Saudi, UEA, Mesir, Qatar, Irak, dan Kuwait. Sikap bersama tujuh negara Arab itu memperlihatkan bahwa keputusan Kolombia tidak hanya menyangkut hubungan bilateral dengan Israel, tetapi berpotensi menimbulkan persoalan diplomatik yang lebih luas di kawasan.

Penolakan tersebut juga berkaitan dengan posisi mayoritas negara di dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tidak mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang mengakui klaim Israel atas wilayah tersebut.

Baca Juga :  Kejaksaan Roma Incar Ben-Gvir Atas Dugaan Kejahatan Perang Flotila Sumud

Karena itu, pengakuan Kolombia menempatkan Bogota pada posisi yang berbeda dari sikap mayoritas negara terkait status wilayah tersebut. Perbedaan posisi inilah yang kemudian memicu kecaman dari sejumlah negara Arab.

Suriah Tegaskan Akan Pertahankan Dataran Tinggi Golan

Sehari setelah pengumuman Kolombia, Pemerintah Suriah pada Selasa (11/8/2026) menegaskan kembali sikapnya terhadap Golan. Damaskus menyatakan akan menggunakan jalur diplomatik dan hukum yang dianggap sah untuk mempertahankan wilayah tersebut.

“Dataran Tinggi Golan adalah bagian integral dari wilayah kami.”

Pernyataan Pemerintah Suriah yang dilansir Times of Israel juga menyebut Damaskus akan terus berupaya mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, dan hak-haknya serta memulihkan wilayah yang diduduki.

Sikap Suriah tersebut menunjukkan bahwa pengakuan Kolombia tidak mengubah posisi Damaskus terhadap status Golan. Sebaliknya, keputusan itu kembali menempatkan isu kedaulatan atas Dataran Tinggi Golan ke dalam sorotan diplomatik internasional.

Di tengah kecaman tujuh negara Arab tersebut, Kolombia tetap mempertahankan keputusan yang menyatakan Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah berdaulat Israel. Sementara Suriah menegaskan akan melanjutkan upaya diplomatik dan hukum untuk mempertahankan klaimnya atas wilayah tersebut.

Baca Juga :  Trump Serang Paus Leo XIV Terkait Kebijakan Perang Iran-Israel