Konflik Houthi-Saudi Kembali Memanas, 112 Ribu Warga Yaman Mengungsi

Houthi Serang Arab Saudi

NusantaraMerdeka.id – Konflik Houthi dan Arab Saudi kembali memanas dan memicu gelombang pengungsian baru di Yaman. Sedikitnya 112.818 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam dua pekan terakhir, sementara hampir 3.000 warga Yaman telah menyeberangi laut menuju Djibouti untuk mencari keselamatan.

Perkembangan ini terjadi ketika pertempuran kembali meningkat di wilayah pesisir Laut Merah Yaman dan ketegangan dengan Arab Saudi memasuki fase baru. Pada Sabtu (19/9/2026), Riyadh bahkan mengeluarkan peringatan serangan udara setelah ancaman serangan dari kelompok Houthi, dengan ledakan terdengar di ibu kota Saudi.

Lebih dari 112 Ribu Warga Yaman Terpaksa Mengungsi

Organisasi Internasional untuk Migrasi atau IOM mencatat sedikitnya 112.818 orang telah mengungsi di dalam Yaman akibat pertempuran yang kembali berkobar. Sebagian besar perpindahan itu terjadi dalam sekitar dua pekan terakhir, menunjukkan cepatnya dampak eskalasi terhadap warga sipil.

Banyak warga memilih tidak pergi terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. IOM menyebut lebih dari 60 persen pengungsi masih berada di wilayah pemerintahan atau distrik yang memungkinkan mereka tetap dekat dengan rumah, dengan harapan dapat kembali ketika situasi memungkinkan.

Baca Juga :  Iran Bentuk Dewan Baru, Bayang-Bayang Ayatollah Khomeini

Pilihan tersebut juga menggambarkan kondisi pengungsian yang serba terbatas. Ketika konflik berubah cepat, warga harus meninggalkan tempat tinggal tanpa kepastian kapan mereka dapat pulang dan tanpa jaminan akses terhadap kebutuhan dasar.

Hampir 3.000 Orang Menyeberang ke Djibouti

Sebagian warga mengambil risiko lebih besar dengan menyeberangi laut menuju Djibouti. Hampir 3.000 orang dilaporkan telah tiba di negara tersebut dalam beberapa hari terakhir setelah meninggalkan Yaman akibat pertempuran.

Perjalanan dilakukan menggunakan perahu yang dalam sejumlah kasus kelebihan muatan, sementara para pengungsi tiba dengan persediaan makanan dan air yang sangat terbatas. Kondisi ini membuat krisis di Yaman sekaligus memberikan tekanan baru kepada Djibouti sebagai negara tujuan pengungsian.

Persoalan tidak berhenti ketika mereka mencapai negara lain. Lembaga kemanusiaan PBB menyebut kebutuhan paling mendesak mencakup makanan, air, tempat tinggal, layanan kesehatan dan perlindungan, terutama bagi perempuan, anak-anak serta kelompok rentan.

Konflik Kembali Meluas di Tengah Serangan Saudi dan Houthi

Gelombang pengungsian tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aksi militer antara Houthi dan pihak yang didukung Arab Saudi. Houthi mengeklaim militer Saudi melancarkan 26 serangan udara ke wilayah yang mereka kuasai dalam 24 jam hingga Jumat (18/9). Klaim tersebut berasal dari pihak Houthi dan tidak secara independen memverifikasi seluruh serangan.

Baca Juga :  Bukan Kebetulan, Rekam Jejak Kota Global Bawa Anies Jadi Penasihat Pembangunan Kota Riyadh

Eskalasi kemudian menjalar langsung ke wilayah Arab Saudi. Pada Sabtu (19/9), koalisi pimpinan Saudi menyatakan pertahanan udaranya mencegat rudal balistik Houthi yang ditembakkan ke arah Riyadh, sementara ledakan dan kepulan asap terlihat di sekitar bandara ibu kota.

Serangan ke Riyadh menjadi perkembangan penting karena ibu kota Saudi sebelumnya tidak mengalami peringatan serangan udara sejak eskalasi konflik terbaru dimulai pada Juli. Saudi menyatakan rudal tersebut berhasil dicegat dan tidak melaporkan korban maupun kerusakan akibat serangan itu.

Yaman Sudah Lama Berada dalam Krisis Kemanusiaan

Eskalasi terbaru menambah beban bagi masyarakat Yaman yang telah menghadapi konflik berkepanjangan, kemerosotan ekonomi dan krisis pangan. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 21 juta orang diproyeksikan membutuhkan bantuan kemanusiaan pada 2026, sementara sekitar 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut.

Data tersebut menunjukkan bahwa perpindahan lebih dari 112 ribu orang bukan terjadi di tengah kondisi normal. Mereka mengungsi ketika layanan dasar dan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan sudah berada dalam tekanan berat.

Baca Juga :  Senator Bato Dela Rosa Jadi Buron ICC Usai Drama Penembakan di Senat

Program Pangan Dunia atau WFP juga mencatat lebih dari 17 juta orang di Yaman menghadapi kelaparan pada 2025. Kondisi tersebut memperlihatkan mengapa setiap gelombang kekerasan baru berisiko memperbesar kebutuhan bantuan pangan dan kemanusiaan.

Di lapangan, akses bantuan juga menjadi persoalan. IOM menyatakan tidak seluruh wilayah terdampak dapat dijangkau pekerja kemanusiaan, sementara fasilitas kesehatan Yaman menghadapi keterbatasan kapasitas untuk menangani korban akibat konflik. WHO dalam pengarahan PBB pada 18 September menyebut hanya sekitar 6 persen fasilitas kesehatan yang memiliki paket layanan trauma lengkap.

Di tengah kondisi tersebut, arus pengungsi masih berkembang dan angka perpindahan diperkirakan dapat berubah seiring pendataan harian. IOM menyatakan jumlah 112.818 orang merupakan angka yang tercatat pada hari sebelumnya dan pembaruan berikutnya masih menunggu hasil pemantauan lapangan.