nusantaramerdeka.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu gelombang protes diplomatik setelah secara terbuka mengamplifikasi pernyataan rasis yang menyebut India dan China sebagai negara “hellhole” atau lubang neraka.
Tindakan ini dilakukan Trump melalui akun Truth Social miliknya pada 23 April 2026 dengan melakukan repost penuh transkrip podcast komentator Michael Savage yang menyerang kebijakan kewarganegaraan berdasarkan kelahiran.
Langkah Trump ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap hubungan bilateral di saat Amerika Serikat dan India baru saja menyepakati penurunan tarif perdagangan menjadi 18 persen pada Februari 2026 lalu.
Kedaulatan nasional India terusik karena repost tanpa koreksi dari seorang presiden menjabat merupakan bentuk endorsement tersirat terhadap narasi rasisme yang merendahkan martabat bangsa Asia di mata dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, memberikan tanggapan keras dalam konferensi pers pada 24 April 2026 dengan menyebut pernyataan tersebut sangat tidak pantas dan tidak berdasar.
“Komentar tersebut jelas tidak berdasar, tidak pantas, dan menunjukkan selera yang buruk. Hal itu tidak mencerminkan realitas hubungan India-AS yang didasarkan pada rasa saling menghormati,” tegas Jaiswal.
Tekanan domestik di New Delhi kini meningkat tajam setelah partai oposisi Congress mendesak pemerintah agar tidak hanya diam saat harga diri bangsa diinjak-injak oleh sekutu strategisnya sendiri.
Pernyataan “hellhole” ini muncul di tengah perjuangan hukum Trump di Mahkamah Agung AS untuk membatasi birthright citizenship melalui perintah eksekutif yang ia tanda tangani pada Januari 2025.
Hindu American Foundation melaporkan bahwa amplifikasi narasi kebencian oleh pejabat tinggi negara berisiko meningkatkan angka kriminalitas berbasis rasial terhadap komunitas keturunan India di Amerika Serikat.
Anggota Kongres AS keturunan India, Ami Bera, mengecam tindakan Trump pada 24 April 2026 sebagai perilaku yang menghina martabat kantor kepresidenan dan salah memahami jati diri Amerika.
Meskipun Gedung Putih membela bahwa Trump hanya sedang menyoroti masalah imigrasi, namun penggunaan diksi rasisme terhadap sekutu ekonomi utama dianggap sebagai blunder diplomatik yang fatal.
Dunia internasional kini menyoroti apakah kemitraan strategis bernilai miliaran dolar akan tetap bertahan atau justru retak akibat retorika yang memposisikan warga India sebagai warga kelas dua. ***