nusantaramerdeka.id — Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berada di titik nadir setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman keras untuk menarik AS keluar dari aliansi tersebut.
Dalam pernyataan terbarunya di Miami Beach, Jumat (27/3/2026), Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat mungkin akan berhenti menjanjikan pertahanan bagi sekutu NATO. Langkah ini memicu kekhawatiran global terhadap eksistensi aliansi militer yang telah menjaga stabilitas keamanan dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II.
“AS mungkin berhenti berjanji mempertahankan sekutu NATO. Saya tidak butuh Kongres untuk keputusan itu,” tegas Donald Trump dalam pidatonya pada Jumat (27/3/2026).
Pernyataan ini merupakan puncak dari ketegangan yang bermula sejak awal tahun 2026. Trump berulang kali mempertanyakan efektivitas Article 5, sebuah prinsip dasar NATO yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.
Solidaritas Eropa Melawan Tekanan Washington
Ketegangan ini semakin memanas setelah sebagian besar negara anggota NATO di Eropa menolak permintaan Trump untuk terlibat dalam konflik bersenjata di Selat Hormuz. Para pemimpin Eropa, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius, secara tegas menolak untuk terseret dalam perang yang dipicu oleh kebijakan sepihak AS.
Pistorius menegaskan bahwa keterlibatan militer di wilayah tersebut bukan merupakan prioritas atau kewajiban bagi negara-negara Eropa. Penolakan massal ini membuat Trump geram dan menyebut NATO sebagai organisasi yang sudah tidak lagi berfungsi secara efektif tanpa keterlibatan aktif militer AS.
“Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya,” ujar Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menanggapi tekanan Amerika Serikat pada Senin (16/3/2026).
Ancaman Eksistensial dan Krisis Greenland
Sebelumnya, pada Januari 2026, dunia sempat dikejutkan dengan krisis Greenland di mana Trump memberikan pilihan provokatif antara merebut wilayah tersebut atau mempertahankan keanggotaan AS di NATO. Tindakan ini memicu respons militer dari Denmark dan delapan sekutu NATO lainnya yang segera mengerahkan pasukan dalam Operasi Arctic Endurance.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan bahwa jika AS memilih untuk menyerang negara anggota NATO secara militer, maka seluruh tatanan keamanan dunia akan berhenti berfungsi. Meskipun ketegangan sempat mereda setelah pertemuan di Davos, ancaman terbaru Trump di Miami Beach membuktikan bahwa retakan dalam aliansi ini sudah terlalu dalam untuk diperbaiki dengan cara biasa.***