Serangan Presisi Israel di Tehran Tewaskan Kepala Intelijen IRGC Majid Khademi

Majid Khademi

nusantaramerdeka.id — Jantung pertahanan Iran kembali bobol setelah serangan udara presisi militer Israel (IDF) menewaskan Kepala Organisasi Intelijen IRGC, Mayor Jenderal Seyed Majid Khademi, di pusat kota Tehran pada Minggu malam, 5 April 2026.

Operasi mematikan ini menghantam salah satu pilar keamanan paling senior rezim yang tersisa di tengah berkecamuknya perang Iran-Israel sejak Februari lalu. Kematian figur bayangan ini mengonfirmasi rapuhnya perisai intelijen Iran terhadap infiltrasi teknologi militer Zionis.

Likuidasi Figur Bayangan Penjaga Rezim

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa Khademi merupakan target prioritas yang telah lama diburu karena peran krusialnya dalam menggerakkan ancaman terhadap aset-aset internasional. Khademi tercatat baru menjabat sejak Juni 2025 menggantikan pendahulunya yang juga tewas oleh Israel.

“Khademi adalah salah satu dari tiga figur paling senior di IRGC yang masih bertahan. Dia terus berpindah-pindah, tetapi pada akhirnya dia diburu dan dieliminasi,” tegas Israel Katz pada Senin, 6 April 2026.

Militer Israel menyebut Khademi memikul tanggung jawab besar dalam merumuskan penilaian situasi strategis bagi kepemimpinan tertinggi Iran. Selain Khademi, serangan tersebut juga menewaskan Asghar Bagheri, Komandan Unit 840 IRGC-Quds Force yang mengelola operasi khusus global.

Baca Juga :  Presiden Iran Tuduh AS dan Israel Dalangi Kerusuhan, Trump Pertimbangkan Opsi Tekanan Militer

Ultimatum dan Ancaman Lumpuhnya Infrastruktur

Pihak Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengonfirmasi gugurnya Khademi sebagai martir akibat apa yang mereka sebut sebagai agresi Amerika-Zionis. Pengumuman ini muncul di tengah kondisi internet nasional Iran yang padam total hingga menyentuh level 4 persen sejak serangan dimulai.

“Kepala organisasi intelijen IRGC, Majid Khademi, meninggal pagi ini akibat serangan Amerika-Zionis selama perang ketiga yang dipaksakan,” tulis pernyataan resmi IRGC pada Senin pagi, 6 April 2026.

Situasi di kawasan kini berada di titik nadir seiring mendekatnya tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump pada 7 April 2026. Trump mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali untuk jalur minyak dunia.

Kehilangan kepala intelijen dalam momen krusial ini diprediksi akan melumpuhkan kemampuan koordinasi pertahanan internal Iran. Kini, dunia menanti apakah Tehran akan melakukan aksi balasan atau justru terdesak oleh tekanan blokade dan serangan udara yang kian brutal. ***