nusantaramerdeka.id — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa aksi protes merupakan hak legal rakyat. Namun pada saat yang sama, ia memperingatkan adanya kelompok perusuh yang, menurutnya, telah dilatih Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel untuk memicu kekerasan dan kekacauan nasional.
Secara garis besar, pemerintah Iran memisahkan antara demonstrasi damai dan aksi brutal yang dianggap sebagai operasi asing. Di sisi lain, Washington di bawah Donald Trump justru meningkatkan tekanan strategis, membuka potensi eskalasi baru di Timur Tengah.
Protes Sah, Kekerasan Dikecam
Dalam wawancara televisi nasional, Pezeshkian menyatakan pemerintahnya tidak menutup mata terhadap keluhan rakyat. “Kami menganggap protes rakyat sebagai hal yang sah,” ujarnya. Namun menurutnya, pembakaran masjid, pembakaran Al-Qur’an, hingga serangan bersenjata bukan bagian dari aspirasi masyarakat Iran.
Yang jadi sorotan, ia menuding kelompok tersebut sebagai elemen terlatih yang direkrut dari dalam dan luar Iran. Bahkan, kata dia, sejumlah pelaku bukan warga negara Iran. Artinya, kerusuhan dipandang sebagai upaya sistematis untuk menciptakan perpecahan.

Pemerintah Janjikan Respons Ekonomi
Sementara itu, kabinet Iran mengklaim telah membuka dialog langsung dengan para pedagang, pengusaha, dan serikat pekerja. Dalam praktiknya, pemerintah berjanji memperbaiki distribusi subsidi secara adil tanpa membedakan gender, ras, atau etnis.
Ia menambahkan, pembicaraan dengan kelompok terdampak dilakukan setiap hari. Menurutnya, tekanan ekonomi dimanfaatkan pihak asing setelah gagal memicu kekacauan pada konflik Juni 2025.
Korban Jiwa dan Tuduhan Brutal
Di waktu bersamaan, insiden kekerasan terus bertambah. Farajollah Shooshtari, aktivis sosial dan putra jenderal IRGC, tewas ditembak di Mashhad. Pemerintah menilai peristiwa ini sebagai bukti eskalasi berbahaya.
Namun pada kenyataannya, kelompok HAM melaporkan korban tewas akibat penindakan aparat telah mencapai 116 jiwa, angka yang diyakini AS dan Israel lebih tinggi dari laporan resmi.
Trump Naikkan Tekanan, Israel Bersikap Menunggu
Di luar itu, Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah menimbang berbagai opsi strategis, mulai dari pengerahan kapal induk, serangan siber, hingga operasi informasi. “Lebih baik kalian jangan mulai menembak,” kata Trump dalam unggahan Truth Social.
Yang patut dicatat, Israel disebut hanya akan terlibat aktif jika Iran lebih dulu menyerang.