Simbol tiga jari kembali terlihat dalam demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil di Jakarta pada 20 dan 28 Oktober 2026. Gestur mengacungkan tiga jari ini berasal dari film The Hunger Games, lalu dipakai gerakan pro-demokrasi di Thailand dan Myanmar sebagai tanda perlawanan terhadap penguasa.
Di tengah massa, gestur itu tampak sederhana. Bagi demonstran, maknanya kuat.
Awalnya salam perpisahan di Distrik 12
Penonton The Hunger Games mungkin ingat gestur ini dari Katniss Everdeen, tokoh yang diperankan Jennifer Lawrence. Film tersebut diadaptasi dari novel karya Suzanne Collins dan berlatar di Panem, negara distopia yang dipimpin pemerintahan otoriter bernama Capitol.
Setiap distrik di Panem wajib mengirim satu anak laki-laki dan satu anak perempuan ke Hunger Games. Itu kompetisi mematikan yang disiarkan langsung, dan peserta dipaksa bertarung sampai tersisa satu pemenang.
Gestur tiga jari pertama muncul saat acara pengundian (Reaping). Katniss secara sukarela menggantikan adiknya, Prim, yang terpilih. Warga Distrik 12 lalu mencium tiga jari tengah tangan kiri dan mengangkatnya ke udara, sebagai penghormatan, ucapan terima kasih, dan salam perpisahan.
Dari penghormatan jadi perlawanan
Seiring cerita berjalan, makna gestur itu bergeser. Salam penghormatan berubah menjadi simbol melawan Capitol.
Salah satu momen paling berkesan datang setelah kematian Rue, peserta dari Distrik 11. Katniss memberi salam tiga jari ke arah kamera. Aksi itu memicu simpati dan kerusuhan awal di Distrik 11 sebagai reaksi atas ketidakadilan Capitol.
Dalam The Hunger Games: Catching Fire, simbol itu muncul lagi. Seorang warga mengangkat tiga jari setelah Katniss berpidato mengenang Rue, dan orang-orang di sekitarnya ikut. Aparat membubarkan aksi tersebut dengan kekerasan. Adegan itu menunjukkan betapa gestur kecil bisa menjadi ancaman bagi penguasa.
Makna simbol tiga jari di jalanan
Di dunia nyata, tafsirnya beragam, tergantung situasi politik dan gerakan yang memakainya. Beberapa makna yang paling sering dikaitkan dengan simbol tiga jari:
- Perlawanan terhadap kekuasaan: penolakan atas pemerintahan yang dianggap mengekang kebebasan, sekaligus kritik terhadap kebijakan yang dinilai tidak adil atau represif.
- Solidaritas dan persatuan: tanda bahwa demonstran punya tujuan yang sama dan tidak menghadapi situasi itu sendirian.
- Dukungan terhadap demokrasi dan keadilan: dalam sejumlah gerakan pro-demokrasi, gestur ini dikaitkan dengan tuntutan kebebasan, kesetaraan, dan keadilan.
- Penghormatan kepada korban: makna ini berakar dari cerita The Hunger Games. Dalam protes, gestur ini juga bisa menghormati mereka yang kehilangan nyawa atau mengalami kekerasan.
Thailand 2014, Myanmar 2021
Pemakaian simbol tiga jari dalam gerakan nyata pernah dikaitkan dengan protes pro-demokrasi di Thailand pada 2014. Militer saat itu mengambil alih kekuasaan lewat kudeta.
Terinspirasi film tersebut, demonstran memakai salam tiga jari untuk menolak junta militer. Gestur itu juga dikaitkan dengan nilai kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, dan demokrasi. Militer Thailand menanggapinya serius, bahkan sempat melarang salam tiga jari karena dianggap perlawanan terhadap penguasa.
Simbol yang sama dipakai lagi dalam demonstrasi di Myanmar pada Februari 2021, setelah militer menggulingkan pemerintahan terpilih yang dipimpin Aung San Suu Kyi. Gestur tersebut menyebar ke berbagai kelompok, termasuk mahasiswa dan tenaga kesehatan.
Muncul di aksi Tugu Tani dan Bundaran HI
Di Indonesia, simbol tiga jari terlihat pada aksi aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Seruan Kedaulatan Rakyat (Sadar) di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada 20 Oktober 2026. Aksi itu digelar bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Gestur yang sama tampak lagi pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Unjuk rasa berskala besar ini digerakkan mahasiswa bersama koalisi masyarakat sipil, dengan titik utama di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Tuntutan massa mencakup isu lingkungan, ekonomi, pendidikan, hukum, hingga demokrasi. Mereka mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk berbagai bencana ekologis, menghentikan proyek yang merusak alam, dan mengakhiri pemborosan anggaran negara. Massa juga menuntut penurunan biaya pendidikan, penghentian penyalahgunaan kekuasaan, serta penghentian militerisasi di ruang sipil.