Ancaman bom palsu mengganggu hampir 30 penerbangan penumpang di sejumlah negara Eropa pada Kamis (5/11/2026). Sejumlah pesawat terpaksa mendarat darurat, sementara jet tempur dikerahkan untuk mengawal atau mencegat pesawat lain, menurut laporan Reuters.
Gangguan itu bukan yang pertama pekan ini. Pada Selasa (3/11/2026), tujuh penerbangan dan sebuah kapal pesiar lebih dulu menerima ancaman palsu serupa. Sebelumnya, delapan negara Eropa melaporkan serangan ke supermarket yang membuat berton-ton makanan dibuang.
Di Prancis, kantor Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyatakan jet tempur dikerahkan untuk mencegat penerbangan Aer Lingus dari Dublin menuju Roma. Pesawat itu dikawal ke pangkalan angkatan udara di Evreux karena pilotnya tidak bekerja sama dengan pihak berwenang sebagaimana mestinya.
Angkatan Udara Bulgaria mengawal tiga pesawat penumpang sampai mendarat. Salah satunya penerbangan Ryanair dari London tujuan Sofia, yang dialihkan ke Plovdiv, kota terbesar kedua di Bulgaria. Badan intelijen Rumania melaporkan penerbangan KLM tujuan Tel Aviv, yang dijadwalkan singgah di Bukares, juga menerima ancaman bom.
Kepolisian Spanyol mencatat tiga ancaman lewat surel dalam 20 menit. Sasarannya dua penerbangan Air Europa dari Madrid menuju Paris dan empat penerbangan masuk Iberia dari Roma dan Milan. Beberapa pesawat di Madrid dihentikan atau diarahkan kembali ke apron, lalu penumpang diminta turun selagi pesawat diperiksa.
Di Warsawa, penerbangan LOT tujuan Paris dihentikan saat sedang bergerak di landasan pacu menuju lokasi lepas landas. Penumpangnya dipindahkan ke pesawat lain. Kepolisian Denmark menyatakan dua pesawat diperiksa di bandara Kopenhagen.
Penerbangan lain yang menerima ancaman tetap mendarat sesuai jadwal. Maskapainya meliputi EasyJet, Finnair, LOT, Wizz Air, Ryanair, dan Air Serbia, dengan tujuan Praha, Sofia, Wina, Brussel, Bukares, Roma, dan Milan. Sebagian di antaranya dikawal militer.
Elena Pala, penumpang Wizz Air dari Milan yang mendarat di Bukares, Rumania, menceritakan suasananya. "Awalnya, kami dibawa ke lokasi yang jauh dari terminal, jauh di landasan pacu. Pesawat itu dikelilingi mobil pemadam kebakaran, ambulans, dan unit antiteror," ujarnya.
Ia sempat bertanya apa yang terjadi. "Mereka hanya mengatakan ada situasi darurat. Hanya itu yang mereka sampaikan," tambah Pala.
Seorang sumber di bandara Italia mengatakan kepada Reuters bahwa sebuah surel berjudul "Laporan Ancaman" (Threat Report) dikirim ke sejumlah maskapai, operator bandara, dan penyedia layanan di Bandara Fiumicino, Roma, serta Bandara Malpensa, Milan. Pengirimnya mengaku sebagai kelompok bernama "pejuang Male State". Isinya menyebut perangkat telah dipasang di pesawat dari Helsinki dan Dublin, dan akan meledak dalam 60 menit.
"Hari ini langit kalian akan berubah menjadi merah," tulis surel tersebut. Belum ada yang mengonfirmasi secara independen siapa pengirimnya.
Male State memang pernah ada. Pendirinya blogger Rusia yang anti-feminis, Vladislav Pozdnyakov. Menurut dia, kelompok yang dibuat pada 2016 itu sudah bubar, dilarang di Rusia, dan tidak terlibat dalam kejadian ini.
"Siapa pun yang saat ini mendalangi provokasi di negara-negara Uni Eropa dengan 'merek' ini bertindak demi kepentingan pribadi. Pada dasarnya mereka memakai panji milik pihak lain," tulis Pozdnyakov di saluran Telegram miliknya.
Pakar keamanan menilai rangkaian ancaman bom ini bisa saja ulah individu yang punya keluhan pribadi atau sekadar peniru. Namun polanya juga mirip "serangan hibrida" yang lebih terkoordinasi. Kepala kelompok keamanan penerbangan Dyami, Eric Schouten, menyebut pembuktiannya sulit.
"Dalam situasi seperti ini, atau dalam bentuk serangan sabotase lainnya, sangat sulit membuktikan keterlibatan negara tertentu. Namun, hal ini sesuai dengan modus operandi yang ada," kata Schouten.
Sejumlah pejabat Eropa menuding Rusia sebagai dalang berbagai sabotase dan serangan hibrida sejak invasi ke Ukraina pada 2022. Serangan model ini murah, mudah disangkal, dan diperkirakan tidak memicu respons bersenjata. Denmark, Polandia, dan Rumania, tiga negara yang terdampak pada Kamis, sebelumnya menuduh Moskow secara langsung. Jerman menyalahkan Rusia atas serangan di bandara Leipzig pada Agustus lalu.
Inggris pernah menuding Rusia dan mengaitkan Iran dengan dugaan rencana serangan ke pangkalan udara Amerika Serikat (AS). Rusia dan Iran sama-sama membantah.
Hingga berita diturunkan, belum ada pemerintah yang mengungkap pihak di balik ancaman tersebut, dan belum ada klaim tanggung jawab yang dapat diverifikasi.