Pulau Sampah Mengapung Di Muara Angke Tamparan Keras Pemprov DKI

Pulau Sampah Jakarta

nusantaramerdeka.id — Fenomena memuakkan kembali terjadi di pesisir ibu kota setelah kemunculan ‘pulau sampah’ yang mengapung sekitar 600 meter dari daratan Muara Angke Jakarta Utara akibat kiriman limbah massal dari wilayah hulu sungai pada Kamis, 4 Juni 2026. Pemerintah daerah dipaksa bergerak melakukan pengerukan setelah rekaman kondisi darurat lingkungan tersebut viral di media sosial.

Tumpukan limbah padat ini menggunung dan membentuk daratan baru yang merusak ekosistem pesisir Jakarta secara parah. Dinas Lingkungan Hidup mengerahkan ratusan petugas gabungan untuk menyisir sisa kotoran yang terus datang tanpa henti dari arah kota.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membenarkan bahwa kemunculan daratan baru dari limbah tersebut terjadi akibat proses pengendapan yang berlangsung lama di muara. Pernyataan itu disampaikan Pramono saat ditemui wartawan di Balai Kota DKI Jakarta pada Jumat, 5 Juni 2026.

“Sedangkan yang di Muara Angke yang kemudian terjadi pulau sampah karena sedimentasi,” tegas Pramono mengonfirmasi kelalaian sistem pengawasan lingkungan hidup tersebut.

Daratan artifisial dari sisa konsumsi warga ini membuktikan bahwa alat penyaring sampah di area hulu sama sekali tidak berfungsi optimal. Pemprov DKI Jakarta terkesan hanya sibuk membersihkan dampak di hilir daripada menghentikan sumber utama pencemaran di aliran sungai.

Baca Juga :  Waketum PSI Bro Ron Dipukul Preman Saat Bela Nasib Karyawan

Sebanyak 8,8 ton sampah berhasil diangkut petugas selama empat hari operasi pembersihan intensif di Muara Kali Adem. Jika penegakan hukum terhadap pembuang sampah di wilayah hulu tetap lemah, daratan baru dari limbah dipastikan akan kembali terbentuk.

Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta Afan Adriansyah Idris menyatakan tantangan terbesar dalam penanganan ini adalah pasokan sampah baru yang selalu datang terbawa arus air pada Sabtu, 6 Juni 2026. Dampak dari kerusakan ini harus ditanggung oleh nelayan lokal.

“Selain lingkungan yang tercemar, ini juga berpotensi untuk menimbulkan adanya bencana banjir yang tentunya dampaknya akan dirasakan oleh kita semua,” ujar Afan saat dikonfirmasi mengenai ancaman bencana hidrologis tersebut. ***