nusantaramerdeka.id — Presiden Prabowo Subianto secara resmi mendeklarasikan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras nasional pada awal tahun 2026 setelah puluhan tahun terjebak dalam ketergantungan impor pangan yang kronis.
Capaian fenomenal ini diumumkan di Karawang, Jawa Barat, dengan fakta mencengangkan bahwa target swasembada yang semula dipatok empat tahun, berhasil dituntaskan hanya dalam kurun waktu satu tahun kepemimpinan. Produksi beras nasional tahun 2025 melonjak hingga 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi domestik sebesar 31,19 juta ton.
Keberhasilan ini menjadi tamparan bagi skeptisisme global sekaligus membuktikan bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar jargon politik. Indonesia kini tidak lagi menjadi penggerak pasar beras regional, melainkan berdiri tegak di atas kaki sendiri dengan surplus mencapai 3,52 juta ton.
Sejarah baru tertulis tepat pada 23 April 2026 pukul 08.55 WIB, di mana stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) resmi menembus angka 5.000.198 ton. Angka ini merupakan rekor absolut yang belum pernah dicapai oleh pemerintahan mana pun, bahkan hampir dua kali lipat dari rekor era Orde Baru tahun 1984 yang hanya 2,6 juta ton.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari reformasi pertanian radikal, termasuk penyederhanaan 145 regulasi pupuk yang selama ini menghambat petani. “Alhamdulillah hari ini tanggal 23 April 2026, stok beras seluruh Indonesia 5.000.198 ton. Ini adalah pertama, tidak pernah terjadi sepanjang sejarah,” tegas Amran.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa swasembada adalah prasyarat utama kemerdekaan sebuah bangsa agar tidak tergantung pada belas kasihan negara lain. Strategi intensifikasi dan ekstensifikasi lahan yang masif terbukti efektif menaikkan indeks pertanaman hingga tiga kali setahun di berbagai wilayah produktif.
Dalam pidatonya, Prabowo memberikan pesan tegas mengenai kemandirian nasional yang kini menjadi kenyataan di sektor pangan. “Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau makan, pangan, tergantung bangsa lain,” ujar Presiden dengan lugas.
Keberhasilan Indonesia berhenti mengimpor beras konsumsi juga telah mengguncang pasar internasional hingga menyebabkan harga beras global anjlok dari USD 650 ke USD 371 per ton. Dengan stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 11 bulan ke depan, Indonesia kini bertransformasi dari importir terbesar menjadi kekuatan pangan yang disegani dunia. ***