nusantaramerdeka.id — Beras analog berbahan uwi muncul sebagai alternatif pangan non-padi yang dikembangkan melalui riset perguruan tinggi di Indonesia untuk mendukung diversifikasi pangan nasional dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Beras analog merupakan beras tiruan yang dibuat dari bahan selain padi, tetapi menyerupai beras konvensional dari segi bentuk, tekstur, dan cara memasak. Uwi dipilih sebagai bahan baku utama karena kandungan pati yang tinggi serta profil gizinya yang beragam, sehingga dapat diolah menjadi nasi tanpa mengubah pola konsumsi masyarakat secara drastis.
Keunggulan beras analog uwi terletak pada kandungan serat pangan yang lebih tinggi serta indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih. Karakteristik ini menjadikannya relevan sebagai pangan fungsional sekaligus alternatif karbohidrat berbasis sumber daya lokal.
Teknologi dan Riset Akademik
Pengolahan beras analog uwi dilakukan menggunakan teknologi ekstrusi, yaitu proses pemanasan dan pemberian tekanan pada tepung uwi hingga membentuk butiran menyerupai beras. Metode ini menghasilkan produk berwarna krem muda dengan tekstur pulen yang familiar bagi konsumen.
Penelitian Aziza Nur Fitria dari Universitas Negeri Malang menunjukkan uwi putih dapat dijadikan bahan baku beras analog melalui ekstrusi. Dalam riset tersebut, diuji kandungan amilosa, daya serap air, dan pengembangan volume, serta dilakukan uji hedonik. Hasil terbaik diperoleh pada komposisi 50 persen tepung uwi dan 50 persen tepung beras.
Indeks Glikemik dan Umur Simpan
Penelitian lanjutan oleh Fadhyl Muhammad Irhab Ra’uf dari IPB University pada 2025 menemukan bahwa beras analog uwi memiliki indeks glikemik rendah dan kandungan serat pangan tinggi. Kandungan protein dapat ditingkatkan melalui fortifikasi tepung kacang-kacangan.
Kadar air produk yang rendah membuat beras analog uwi memiliki umur simpan lebih panjang. Dalam proses memasak, beras cukup dibilas untuk meningkatkan kadar air, sementara tekstur pulen tetap terjaga berkat keseimbangan amilosa dan amilopektin.
Pengembangan beras analog uwi dinilai mendukung kemandirian pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada beras padi sebagai sumber karbohidrat utama. (*)