nusantaramerdeka.id — Kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) pukul 20.52 WIB telah merenggut tujuh nyawa.
Peristiwa kelam di KM 28+920 ini bermula saat sebuah taksi listrik VinFast e34 milik perusahaan Vietnam, Green SM, mogok di perlintasan sebidang Bulak Kapal hingga memicu kegagalan sistem perjalanan kereta.
Hantaman keras lokomotif Argo Bromo relasi Gambir–Surabaya menembus gerbong belakang KRL tujuan Cikarang yang sedang berhenti darurat.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengonfirmasi data terbaru mengenai dampak fatal dari tabrakan hebat di jantung transportasi penyangga ibu kota tersebut.
“Hingga saat ini sebanyak 7 orang meninggal dunia akibat insiden tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur,” tegas Bobby dalam keterangannya pada Selasa (28/4/2026).
Investigasi awal mengungkap adanya jeda waktu kritis sekitar lima menit sejak KRL berhenti hingga akhirnya dihantam dari belakang oleh Argo Bromo yang melaju kencang.
Publik kini mempertanyakan mengapa prosedur darurat gagal menghentikan laju kereta jarak jauh tersebut meski jalur di depannya sudah terhambat oleh insiden taksi mogok.
Asisten masinis melaporkan adanya anomali pada sistem persinyalan yang mendadak berubah merah tanpa peringatan kuning terlebih dahulu sebelum tabrakan terjadi.
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa gangguan teknis pada sistem otomasi ikut berperan dalam memperparah dampak kecelakaan di perlintasan sebidang ini.
Kehadiran unit taksi Green SM yang mogok di tengah rel menjadi pemicu utama yang kini disorot tajam karena rekam jejak kendaraannya yang bermasalah.
Sebelum petaka Bekasi Timur, armada asal Vietnam ini tercatat pernah mengalami kegagalan sistem di Tangerang yang menyebabkan mobil bergerak mundur tanpa kendali.
Pernyataan resmi Green SM yang hanya menyatakan “menaruh perhatian” tanpa permohonan maaf eksplisit memicu kemarahan publik dan desakan evaluasi izin operasional.
Pemerintah dituntut bersikap tegas terhadap keandalan teknologi kendaraan listrik asing yang beroperasi di infrastruktur vital seperti jalur kereta api nasional.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan pihak kementerian akan mengawal penuh investigasi yang sedang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi.
“Kemenhub memastikan evakuasi dilakukan secara cepat. Kami juga mendukung langkah-langkah investigasi dari KNKT,” ujar Dudy pada Selasa (28/4/2026).
Evakuasi korban yang terhimpit baja kereta membutuhkan keahlian khusus dari tim Basarnas lantaran posisi lokomotif yang merobek dua gerbong belakang KRL.
Satu per satu identitas korban mulai terverifikasi di RSUD Bekasi, sementara tiga orang lainnya dilaporkan masih dalam upaya evakuasi dari jepitan material.
Negara harus hadir menjamin keselamatan rakyat di jalur rel, bukan sekadar memberikan santunan tanpa melakukan perombakan total pada sistem manajemen risiko perjalanan. ***