Kecelakaan kereta cepat di Spanyol menewaskan sedikitnya 68 orang pada Rabu (28/10/2026). Kereta Renfe menabrak kereta Iryo yang sedang berhenti di jalurnya, di kawasan pedesaan Castilla-La Mancha, selatan Madrid. Menteri Transportasi Oscar Puente menyebut tabrakan terjadi setelah kereta Renfe diizinkan jalan meski sebelumnya mendapat sinyal merah.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Juru bicara pemerintah Castilla-La Mancha mengatakan kereta Iryo mengangkut 147 orang, sedangkan kereta Renfe membawa 397 penumpang. Dua gerbong Iryo anjlok akibat benturan.
Menurut Puente, sinyal merah itu muncul karena gangguan komunikasi pada sistem komputer yang otomatis menghentikan lalu lintas kereta. Keputusan keliru lalu diambil, dan kereta Renfe kembali diizinkan berjalan.
Renfe menyebut keretanya melaju sesuai instruksi. "Urutan kejadian secara tepat, kondisi lalu lintas kereta, serta keadaan saat benturan harus ditentukan melalui penyelidikan," demikian pernyataan perusahaan itu. Renfe mengaku belum tahu mengapa kereta Iryo berhenti di jalur. Iryo sendiri telah mengaktifkan protokol darurat. Adif, perusahaan negara pengelola infrastruktur perkeretaapian Spanyol, belum menanggapi permintaan komentar.
Korban terjepit di antara kursi
Ambulans, kendaraan layanan pemakaman, dan helikopter dikerahkan ke lokasi. Salah satu kereta berada di jalur layang. Puing dan logam bengkok berserakan di lereng, tempat sedikitnya tiga gerbong terjun ke bawah.
Kepala pemerintahan regional Castilla-La Mancha, Emiliano García-Page, menyatakan korban tewas mencapai 68 orang. Petugas masih menyisir gerbong saat malam tiba. Mereka belum bisa memastikan apakah masih ada korban meninggal yang tertimbun sebelum rangkaian kereta dipindahkan.
Menteri Kesehatan Spanyol Monica Garcia mengatakan 80 orang terluka, 15 di antaranya dalam kondisi sangat serius. Sebagian korban dievakuasi lewat jalan di dekat lokasi dengan tubuh berlumuran darah atau dibalut perban.
Salvador Arriza, penumpang berusia 62 tahun, menggambarkan kekacauan setelah tabrakan. "Saya berada sangat dekat dengan pintu, tetapi penumpang lain memecahkan jendela agar bisa keluar. Beberapa orang praktis tidak bisa bergerak karena terjebak di antara kursi," tuturnya.
Penumpang lain, Rafael Barcelo, selamat karena sedang meninggalkan tempat duduk untuk mengambil kopi. Ia menyebut sedikitnya delapan korban berasal dari gerbong yang ia tumpangi. "Kami sedang sarapan dan minum kopi ketika merasakan benturan yang sangat kuat hingga kami terlempar," ujarnya.
Di sebuah sekolah di Urda yang dijadikan tempat berkumpul keluarga korban, seorang perempuan bernama Ana menahan tangis. Ia belum mendapat kabar tentang suaminya, Pepe. Nama sang suami tidak ada dalam daftar korban teridentifikasi, padahal polisi sudah menemukan anjing peliharaan mereka, Trece.
Kecelakaan kedua dalam setahun
Ini kecelakaan kereta paling mematikan di Eropa sejak anjloknya kereta di Santiago de Compostela, Spanyol, pada 2013 yang menewaskan 80 orang. Bagi Spanyol, ini juga insiden kereta fatal kedua tahun ini.
Pada Januari, sebuah kereta cepat dari operator yang sama anjlok di jalur yang sama lalu menghantam kereta dari arah berlawanan. Sebanyak 46 orang meninggal. Peristiwa itu memicu perdebatan soal investasi pemeliharaan jaringan rel.
Dalam laporan awal pada Februari, Garda Sipil Spanyol menyebut kerusakan pada jalur rel, rel itu sendiri, atau sambungan las antarbagian rel sebagai dugaan utama penyebab kecelakaan Januari. Penyelidik masih mempertimbangkan tujuh kemungkinan lain.
Data otoritas keselamatan perkeretaapian Spanyol menunjukkan jumlah kecelakaan, termasuk anjlok dan tabrakan, naik dari 45 kejadian pada 2016 menjadi 57 pada 2024, lalu 69 pada tahun lalu.
Analisis Reuters atas data otoritas persaingan usaha Spanyol mencatat sekitar 25 juta penumpang naik kereta cepat selama paruh pertama 2026. Angka itu turun sekitar 14% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Data Komisi Eropa memperlihatkan investasi pemeliharaan jaringan kereta cepat Spanyol sepanjang sekitar 4.000 kilometer masih tertinggal dari sejumlah negara besar Eropa. Selama 2018-2022, Spanyol mengucurkan rata-rata sekitar 1,5 miliar euro per tahun, lebih besar dari negara Eropa lain. Namun sebagian besar dana itu untuk membangun jalur baru, dan hanya sekitar 16% untuk pemeliharaan, pembaruan, dan peningkatan infrastruktur.
Sanchez janjikan penyelidikan menyeluruh
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan pernyataan yang disiarkan televisi dari lokasi kejadian. Ia menyebut insiden itu tragedi mengerikan dan berjanji menjamin penyelidikan menyeluruh serta memperbaiki setiap kelemahan yang ditemukan. Menurut Sanchez, penyebab kecelakaan kali ini dan insiden sebelumnya tampaknya tidak berkaitan.
"Jika kita perlu memperkuat keselamatan lebih jauh demi memulihkan kepercayaan terhadap sistem kereta cepat kita, kita akan melakukannya. Sebab, yang tidak dapat diterima oleh negara seperti Spanyol adalah mengalami dua kecelakaan kereta cepat dalam tahun yang sama," kata Sanchez, dilansir Reuters.
Partai oposisi Partai Rakyat (People's Party) membatalkan seluruh kegiatan kampanye pada hari itu menjelang pemilu bulan depan.
Renfe telah membuka saluran komunikasi khusus bagi keluarga korban. Perusahaan juga menghentikan penjualan tiket kereta cepat jalur Madrid-Andalusia hingga 13 Desember.