Mancanegara

Kim Jong Un Muncul Sehat, Rumor Meninggal karena Pendarahan Otak Terbantah

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan putrinya, Ju Ae (kanan) mengunjungi pameran, Senin (19/10/2026). - dok kcnawatch.org
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan putrinya, Ju Ae (kanan) mengunjungi pameran, Senin (19/10/2026). - dok kcnawatch.org

Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un kembali tampil di media pemerintah dalam kondisi tampak sehat, menepis rumor bahwa ia meninggal akibat pendarahan otak. Surat kabar pemerintah Rodong Sinmun menerbitkan foto pria berusia 42 tahun itu bersama putrinya, Kim Ju Ae, saat melihat pameran pakaian dan alas kaki. Foto tersebut terbit hanya beberapa jam setelah seorang pembangkang China di Amerika Serikat (AS) mengeklaim tanpa bukti bahwa Kim wafat di Beijing.

Klaim itu datang dari Wanjun Xie, yang mengaku sebagai ketua Partai Demokrat China, kelompok yang dilarang Beijing. Menurut narasinya yang dikutip Turkiye Today, Kim mengalami pendarahan otak parah dan dibawa ke Beijing dalam keadaan koma karena Korea Utara tidak punya fasilitas medis memadai. Xie menyebut Kim akhirnya meninggal, jenazahnya dipulangkan diam-diam, dan rezim berusaha menutupinya.

Xie bukan nama baru dalam urusan kabar yang tak terverifikasi. Ia sebelumnya juga menyebarkan spekulasi tentang kematian pemimpin China Xi Jinping.

Belum ada cara memastikan kapan foto-foto di Rodong Sinmun itu diambil. Namun ada alasan lain untuk meragukan klaim Xie. Jika kondisi Kim memburuk mendadak, tanda-tandanya kemungkinan besar terlihat hingga ke luar perbatasan Korea Utara. China bisa saja memperketat keamanan perbatasan untuk mengantisipasi ketidakstabilan atau arus pengungsi, dan aktivitas di sekitar misi diplomatik Korea Utara berpotensi meningkat. Para pembelot di Korea Selatan pun biasanya menerima informasi lewat jaringan informal di sepanjang perbatasan China.

Tidak satu pun tanda itu muncul. Pejabat intelijen Korea Selatan juga menyampaikan kepada kantor berita Yonhap bahwa mereka tidak mendengar informasi apa pun yang mendukung laporan tersebut.

Rumor serupa pernah terjadi. Pada 2020, seorang pembelot Korea Utara yang cukup dikenal mengaku 99 persen yakin Kim meninggal setelah operasi kardiovaskular. Tak lama kemudian Kim muncul di hadapan publik dan klaim itu gugur.

Masalah suksesi menjadi salah satu alasan rumor semacam ini terus muncul. Korea Utara dipimpin keluarga Kim selama tiga generasi, tetapi transisi pasca-Kim Jong Un jauh lebih tidak pasti dibanding sebelumnya. Kim Il Sung menyiapkan putranya, Kim Jong Il, selama puluhan tahun, sehingga peralihan kekuasaan setelah ia wafat pada 1994 berjalan relatif mulus. Setelah Kim Jong Il terkena stroke pada 2008, putra bungsunya dipromosikan cepat lewat berbagai jenjang jabatan. Saat sang ayah meninggal pada 2011, ia sudah diperkenalkan sebagai pemimpin masa depan. Meski begitu, Kim Jong Un tetap butuh bertahun-tahun untuk mengonsolidasikan kekuasaan, menyingkirkan pesaing, dan melenyapkan pihak yang dianggap ancaman.

Kim Ju Ae kini makin sering tampil di acara penting dan pameran militer. Usianya diperkirakan baru 13 tahun. Korea Utara belum pernah dipimpin perempuan, dan sang putri belum resmi ditunjuk sebagai ahli waris.

Faktor kesehatan ikut memicu spekulasi. Kim diketahui berat badannya berlebih dan perokok berat. Badan Intelijen Nasional Korea Selatan berulang kali memperingatkan bahwa gaya hidup itu menaikkan risiko penyakit kardiovaskular. Riwayat penyakit jantung dan stroke juga lazim ditemukan dalam keluarga Kim.

Taruhannya besar jika sesuatu benar-benar terjadi pada Kim. Krisis kepemimpinan mendadak akan memunculkan pertanyaan soal kendali senjata nuklir Korea Utara dan potensi gejolak politik. Badan intelijen pun terus memantau Kim dengan saksama.

Korea Utara sendiri tetap menjadi "lubang hitam" informasi. Hanya segelintir orang punya akses rutin ke sang pemimpin, dan badan intelijen kerap kesulitan mendapatkan informasi tepercaya. Laporan yang muncul biasanya disertai catatan belum terverifikasi. Rezim itu juga diduga sengaja membocorkan informasi menyesatkan untuk mengaburkan keadaan sebenarnya.

Karena itu, sulit memercayai bahwa Wanjun Xie kebetulan menemukan kabar sebesar ini, sementara pihak yang bertugas memantau Korea Utara secara intensif tidak menangkap apa pun.