NusantaraMerdeka.id — Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya resmi merespons kritik tajam diplomat senior Dino Patti Djalal mengenai tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto lewat unggahan video di Jakarta pada Senin, 1 Juni 2026. Respon kelembagaan via media sosial ini memicu polemik baru karena Istana kedapatan menyerang masa jabatan formal sang kritikus secara personal.
Data internal yang dibeberkan Dino mencatat Presiden telah melakukan 49 kali perjalanan ke luar negeri selama 587 hari memimpin negara. Angka fantastis ini berarti satu dari enam hari kerja Kepala Negara dihabiskan di luar negeri, sebuah rasio yang dinilai publik tidak lazim.
Pemerintah sendiri tidak membantah data statistik kunjungan yang diungkap ke publik tersebut. Istana justru memilih menggeser fokus debat pada pembelaan anggaran logistik dan efisiensi jumlah rombongan delegasi.
Teddy yang berbicara atas nama Sekretariat Kabinet memanfaatkan platform digital resmi institusi untuk menyindir balik rekam jejak karier sang diplomat. “Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan hanya tiga bulan,” sindir Teddy dalam videonya pada Senin, 1 Juni 2026.
Istana mengklaim biaya kelebihan perjalanan diplomatik selama ini ditanggung langsung dari kantong pribadi Presiden Prabowo tanpa membebani APBN. Namun, klaim anggaran mandiri tersebut disampaikan tanpa disertai rilis dokumen transparansi keuangan yang bisa diakses publik.
Langkah Seskab menggunakan akun lembaga negara untuk membalas kritik personal dinilai sebagai preseden buruk komunikasi politik. Kebijakan ini menunjukkan ketidaksiapan mental birokrasi dalam menghadapi kontrol sosial yang sah.
Kritik dari Dino ini sejatinya memiliki legitimasi moral kuat karena ia merupakan tokoh yang baru saja menerima penghargaan Bintang Mahaputera dari Presiden Prabowo. Fakta hubungan ini mematahkan tudingan sepihak partai pengusung pemerintah bahwa kritik tersebut bermotif politik murni.
Dukungan terhadap Dino terus mengalir dari berbagai tokoh nasional yang menyayangkan respons kekanak-kanakan dari perwira aktif tersebut. Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan rekam jejak tiga dekade Dino di dunia internasional tidak bisa dinegasikan hanya oleh durasi jabatan formal.
“Pak Dino Patti Djalal menguasai substansi. Rekam jejaknya juga teruji. Pun pengalaman memimpinnya luas,” tegas Anies dalam pernyataan tertulisnya pada Selasa, 2 Juni 2026. ***