NusantaraMerdeka.id – Pemerintah memperluas penanaman bawang putih ke 17 provinsi sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi nasional dan mengurangi ketergantungan impor. Di NTB, penanaman mencapai 120 hektare dengan potensi produksi sekitar 1.200 ton yang diproyeksikan memasuki masa panen pada November 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem produksi bawang putih yang mencakup peningkatan produktivitas, infrastruktur pascapanen, distribusi, hingga kepastian pasar bagi petani. Strategi ini penting karena produksi bawang putih nasional saat ini masih jauh di bawah kebutuhan dalam negeri.
Bawang Putih Diperluas ke 17 Provinsi
Penanaman bawang putih dilakukan secara serentak di 17 provinsi. NTB menjadi salah satu sentra yang mendapat perhatian pemerintah dengan luas tanam 120 hektare dan potensi produksi sekitar 1.200 ton.
Hasil penanaman tersebut diproyeksikan dipanen pada November 2026. Jadwal panen ini menjadi salah satu tahapan yang akan menentukan seberapa besar tambahan pasokan bawang putih dapat masuk ke pasar domestik pada akhir tahun.
Pengembangan di berbagai daerah juga menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak diarahkan hanya pada satu sentra. Pemerintah mendorong pembentukan dan penguatan sejumlah wilayah produksi agar kapasitas bawang putih nasional dapat bertambah secara bertahap.
Produksi Bawang Putih Masih Jauh dari Kebutuhan
Saat ini, produksi bawang putih nasional berada di kisaran 39.000-40.000 ton per tahun. Sementara itu, kebutuhan dalam negeri mencapai sekitar 600.000 ton.
Perbedaan tersebut membuat sebagian besar kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi melalui impor. Pemerintah menyebut sekitar 90-95 persen kebutuhan masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Karena itu, perluasan lahan tanam saja belum cukup untuk mengejar kebutuhan nasional. Pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas agar lahan yang digunakan mampu menghasilkan produksi lebih besar.
Panen Raya di Sembalun Libatkan Ratusan Petani
Upaya penguatan produksi ditunjukkan melalui panen raya bawang putih di Kecamatan Sembalun Bumbung, Lombok Timur, NTB, pada Rabu (19/8/2026). Panen berlangsung di lahan seluas 105 hektare dengan estimasi produksi 1.050 ton.
Kegiatan tersebut melibatkan sembilan kelompok tani dan 287 petani. Skala panen ini memperlihatkan peran sentra daerah dalam menopang upaya peningkatan produksi bawang putih di dalam negeri.
Panen raya itu dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit, serta Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Suharto.
Gudang Ketahanan Pangan Dukung Hasil Panen
Penguatan produksi juga dibarengi pembangunan infrastruktur pascapanen. Di Sembalun, pemerintah meresmikan Gudang Ketahanan Pangan Polri yang ditujukan untuk mendukung penyimpanan dan pengelolaan hasil panen petani.
Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting karena peningkatan produksi perlu diikuti kemampuan mengelola hasil setelah panen. Pemerintah juga menempatkan distribusi dan kepastian pasar sebagai bagian dari ekosistem yang harus berjalan bersama.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pengurangan impor membutuhkan langkah yang konkret, mulai dari produksi hingga pemasaran.
“Kalau kita ingin mengurangi impor, langkahnya harus konkret. Kita perkuat produksi petani, produktivitas, gudang, distribusi, sampai kepastian pasar. Semua membutuhkan kerja bersama lintas kementerian dan lembaga,” ujar Zulhas dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Pemerintah selanjutnya akan memperkuat koordinasi antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, Polri, dunia usaha, dan petani agar agenda peningkatan produksi bawang putih berjalan dalam satu arah.
Zulhas menegaskan penguatan produksi dalam negeri harus terus dilakukan agar Indonesia tidak selamanya bergantung pada pasokan bawang putih dari luar negeri.
“Dari Sembalun kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia tidak boleh selamanya bergantung pada impor bawang putih. Kita harus terus meningkatkan kemampuan produksi dari negeri sendiri,” tegas Zulhas.