Gempa Bumi NTT, Korban Meninggal Capai 71 Orang, 59.647 Mengungsi

Warga di Reruntuhan Gempa Bumi NTT

Kupang, NusantaraMerdeka.id – Korban meninggal akibat gempa bumi NTT bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026) bertambah menjadi 71 orang per Rabu (19/8). BNPB juga mencatat 59.647 warga mengungsi, sementara proses penanganan dan pendataan masih berlangsung di tujuh kabupaten terdampak.

Gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. BMKG menyatakan gempa dipicu aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust.

Guncangan kuat dirasakan hingga sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Setelah gempa utama, aktivitas gempa susulan juga terus terjadi sehingga sebagian warga memilih tetap berada di luar rumah karena khawatir bangunan yang sudah rusak kembali terdampak.

Gempa Bumi NTT, Korban Bertambah Seiring Pendataan

BNPB mencatat jumlah korban meninggal terus berubah sejak hari pertama bencana. Pada Sabtu (15/8) pukul 18.48 WIB, korban meninggal tercatat 47 orang, kemudian menjadi 53 orang pada Minggu, 68 orang pada Senin, dan 69 orang pada Selasa.

Baca Juga :  Banjir Sumatera Sisakan 11.307 Pengungsi di Tenda

Pada Rabu (19/8), jumlah tersebut kembali bertambah satu menjadi 71 orang. BNPB menyebut tambahan korban berasal dari Kabupaten Nagekeo.

Sebaran korban meninggal yang tercatat pada 17 Agustus menunjukkan dampak paling berat berada di Manggarai dengan 26 orang dan Manggarai Timur sebanyak 24 orang. Korban lainnya tercatat di Nagekeo, Sikka, Ende, Manggarai Barat, dan Ngada.

Perubahan angka tersebut berlangsung seiring pendataan lapangan. Karena itu, data korban bencana masih dapat diperbarui ketika petugas menjangkau wilayah terdampak dan melakukan verifikasi.

Pengungsi Gempa Flores Tembus 59.647 Orang

Jumlah warga yang mengungsi juga mengalami perubahan besar dalam beberapa hari. BNPB mencatat 9.290 pengungsi pada 16 Agustus, kemudian jumlahnya meningkat menjadi 34.689 orang pada 18 Agustus dan mencapai 59.647 orang pada 19 Agustus.

Lonjakan tersebut perlu dibaca dalam konteks pendataan yang masih berjalan. Bertambahnya jumlah pengungsi tidak otomatis berarti seluruhnya merupakan gelombang pengungsian baru, karena pencatatan warga di wilayah terdampak dilakukan secara bertahap.

Di tengah proses tersebut, ancaman gempa susulan masih menjadi perhatian. BMKG mencatat hingga 19 Agustus pukul 06.00 WITA telah terjadi 2.768 gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2. Dari jumlah itu, 24 gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 5 dan 81 gempa dirasakan masyarakat.

Baca Juga :  OTT KPK: Walikota Madiun Terjaring, 9 Orang Diboyong ke Jakarta

Lebih dari 2.000 Bangunan Rusak

Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan bangunan. Data awal mencatat sedikitnya 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan, selain puluhan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan kantor pemerintah.

Jumlah kerusakan kemudian terus diperbarui. Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah dengan dampak besar, dengan sekitar 7.480 rumah dan lebih dari 40 tempat ibadah dilaporkan rusak.

Kerusakan fasilitas kesehatan turut memengaruhi pelayanan kepada korban. Kementerian Kesehatan mengirim dua unit rumah sakit lapangan ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan Nagekeo untuk membantu pelayanan di tengah kondisi sejumlah fasilitas kesehatan lokal yang terdampak.

398 Ton Bantuan Sudah Disalurkan

Penanganan darurat terus dilakukan pemerintah bersama TNI, Polri, BNPB, Basarnas, dan kementerian terkait. TNI mengerahkan 4.477 personel serta 27 alat utama sistem persenjataan untuk mendukung mobilisasi, distribusi logistik, dan pelayanan kesehatan.

Hingga 18 Agustus pukul 18.00 WIB, sebanyak 398 ton bantuan logistik telah disalurkan ke NTT, termasuk 165 ton melalui jalur udara. Bantuan pangan berupa 5.386 ton beras senilai Rp75,4 miliar juga disalurkan untuk masyarakat di Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, dan Sikka.

Baca Juga :  Hut Sultan ke-80: Ribuan Pamong Desa Geruduk Keraton Bawa Gunungan

BNPB menyatakan pencarian korban tetap dilakukan meski per 17 Agustus tidak lagi terdapat laporan warga hilang di wilayah terdampak. Tim tetap disiagakan di tujuh kabupaten untuk memastikan tidak ada korban yang belum ditemukan.

Pemerintah juga mulai menyiapkan kebutuhan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga yang rumahnya tidak lagi dapat ditempati. Pada saat yang sama, pengiriman bantuan dan penanganan warga terdampak masih berlangsung di sejumlah wilayah Flores.