nusantaramerdeka.id — Sekitar 13.000 pamong kalurahan yang tergabung dalam Nayantaka melakukan aksi sowan massal dan kirab budaya menuju Keraton Yogyakarta untuk memperingati hari ulang tahun ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (02/04/2026).
Massa bergerak dari Alun-Alun Utara dengan membawa gunungan hasil bumi sebagai simbol persembahan rakyat kepada pemimpinnya yang kini genap memasuki usia delapan dasawarsa. Aksi ini menjadi penanda kuatnya legitimasi kultural Sultan di mata perangkat desa yang bersentuhan langsung dengan akar rumput.
Pihak Pemerintah Daerah DIY melalui keterangan resminya menegaskan bahwa prosesi ini memiliki makna mendalam bagi hubungan pemimpin dan rakyat. “Kirab budaya Mangayubagya Yuswa Dalem kaping 80 Sri Sultan Hamengku Buwono X tak sekadar menjadi perayaan, tapi buah tangan rakyat kembali ke rakyat,” tulis keterangan Pemda DIY pada 2 April 2026.
Iring-iringan sepanjang 500 meter tersebut menarik perhatian ribuan warga dan wisatawan yang memadati area nol kilometer sejak pagi hari. Kehadiran 80 angkringan di lokasi kirab menjadi simbol pelayanan Sultan kepada rakyatnya yang datang dari seluruh pelosok provinsi.
Ritual Politik dan Loyalitas Nayantaka
Kirab ini bukan sekadar seremoni budaya rutin, melainkan penegasan loyalitas aparat desa terhadap kepemimpinan Sultan HB X yang juga menjabat sebagai Gubernur DIY. Penggunaan gunungan berupa beras, sayur, dan buah melambangkan siklus kemakmuran yang terus berputar di wilayah Yogyakarta.
Partisipasi massif perangkat desa ini menunjukkan bahwa struktur governansi tradisional di Yogyakarta masih sangat solid dan efektif. Sultan HB X yang lahir pada 2 April 1946 tersebut tetap menjadi figur sentral pemersatu di tengah dinamika politik nasional yang terus berkembang.
Demokrasi Ruang Publik di Malioboro
Setelah prosesi pagi, perayaan berlanjut ke sepanjang jalan Malioboro dengan konsep pesta rakyat yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat luas. Ruang publik ini diubah menjadi arena partisipasi demokratis di mana tidak ada sekat antara birokrasi dan warga sipil dalam merayakan momentum sejarah.
Langkah ini membuktikan bahwa Yogyakarta mampu mengawinkan nilai-nilai tradisional dengan kebutuhan ruang publik modern secara harmonis. Keberhasilan manajemen massa dalam acara skala besar ini sekaligus menjadi catatan prestasi bagi penyelenggara di usia Sultan yang ke-80.
Ketegasan Sultan dalam menjaga kesejahteraan rakyat menjadi alasan utama mengapa ribuan orang rela berjalan kaki di bawah terik matahari demi memberikan penghormatan. Momentum ini mengukuhkan posisi Yogyakarta sebagai benteng budaya yang tidak luntur oleh arus zaman. ***