Trump Lolos dari Maut Ketiga, Kegagalan Intelijen AS Terulang Lagi

Insiden Penembakan Trump

nusantaramerdeka.id — Presiden Amerika Serikat ke-47 Donald Trump kembali menjadi target percobaan pembunuhan untuk ketiga kalinya dalam dua tahun terakhir setelah seorang pria melepaskan tembakan di Washington Hilton, Sabtu (25/4/2026).

Insiden terbaru ini terjadi saat Trump menghadiri White House Correspondents’ Dinner (WHCD) sekitar pukul 20:30 waktu setempat. Pelaku yang diidentifikasi sebagai Cole Tomas Allen berhasil diringkus Secret Service di area pemeriksaan keamanan utama setelah sempat melukai seorang petugas.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi kedaulatan keamanan domestik Amerika Serikat yang seolah tak berdaya melindungi kepala negaranya dari ancaman berulang. Pola serangan yang terus terjadi menunjukkan adanya lubang besar dalam sistem deteksi dini meski pengamanan telah diperketat pasca-insiden Pennsylvania dan Florida.

Poin krusial dalam insiden Washington ini adalah adanya laporan dari keluarga Allen kepada polisi mengenai perilaku mengkhawatirkan pelaku sebelum serangan terjadi. Namun, peringatan tersebut seolah menguap begitu saja hingga Allen mampu membawa senjata ke ring satu kepresidenan.

Kondisi ini memperpanjang catatan kelam perlindungan presiden modern AS yang belum pernah menghadapi eskalasi ancaman sesingkat ini. Publik kini mempertanyakan apakah ada pembiaran atau ketidakmampuan sistemik dalam merespons laporan masyarakat terkait potensi terorisme domestik.

Baca Juga :  Israel Ketakutan, Netanyahu Adukan Retorika Keras Erdogan ke Amerika Serikat

Berbeda dengan Thomas Matthew Crooks yang motifnya tetap menjadi misteri hingga investigasi FBI ditutup November 2025, Cole Tomas Allen secara terang-terangan mengirimkan manifesto ke keluarganya sesaat sebelum beraksi. Allen bahkan melabeli dirinya sebagai “Friendly Federal Assassin” dalam tulisan-tulisan yang mengkritik keras kebijakan administrasi Trump.

Kutipan tegas datang dari Deputy U.S. Attorney General Todd Blanche dalam pernyataan resminya pada tahun 2025 saat menangani kasus percobaan pembunuhan sebelumnya. “Percobaan untuk membunuh calon presiden adalah serangan terhadap Republik kita. Departemen Kehakiman akan tanpa lelah mengejar mereka yang mencoba membungkam suara politik,” tegas Blanche.

Kenyataannya, meski penegak hukum berjanji mengejar pelaku, serangan ketiga ini membuktikan bahwa tindakan represif pasca-kejadian tidak cukup tanpa langkah preventif yang radikal. Amerika Serikat kini berada dalam pusaran kekerasan politik yang mengancam stabilitas nasionalnya sendiri.

Keamanan nasional bukan sekadar soal kaca anti peluru di panggung kampanye, melainkan ketajaman intelijen meredam api sebelum membara. Publik dunia kini menunggu sejauh mana transparansi investigasi atas Allen dibandingkan misteri motif Crooks yang tetap gelap hingga saat ini. ***

Baca Juga :  Lautan Manusia No Kings Guncang AS Penolakan Keras Terhadap Kediktatoran