nusantaramerdeka.id — Diplomasi omong kosong berakhir tragis setelah militer Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi tempur besar-besaran ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026 pagi waktu setempat.
Serangan mendadak berkode Epic Fury ini menghantam kompleks kediaman Pemimpin Agung Ali Khamenei di Teheran hingga menewaskan tokoh kunci tersebut bersama ribuan personel Garda Revolusi (IRGC).
Presiden Donald Trump menegaskan perintah serangan diberikan langsung dari Air Force One demi menghilangkan ancaman rezim Iran yang dituding terus membangun senjata nuklir secara sembunyi-sembunyi.
Ironisnya, gempuran ini meletus justru saat negosiasi tidak langsung di Oman masih berlangsung, membuktikan bahwa bagi Washington dan Tel Aviv, meja diplomasi hanyalah kedok untuk persiapan perang.
Sumpah Balas Dendam dan Blokade Ekonomi Global
Iran tidak tinggal diam menghadapi agresi tersebut dengan meluncurkan ribuan drone serta rudal balistik ke pangkalan militer AS di seluruh Teluk Persia dan menyasar infrastruktur strategis sekutunya.
“Militer AS memulai operasi tempur besar di Iran untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman segera dari rezim Iran,” tegas Donald Trump dalam pernyataan resminya pada hari pertama serangan.
Akibat konflik ini, Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur nadi bagi 20 persen pasokan minyak dunia, yang langsung melambungkan harga Brent hingga menembus angka 105 dolar per barel.
Ancaman Rezim Baru yang Lebih Radikal
Peta kekuatan politik Iran bergeser cepat setelah pengangkatan Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Agung baru yang dikenal memiliki garis pemikiran lebih hawkish.
Rezim baru ini menggunakan Selat Hormuz sebagai “senjata pemusnah massal ekonomi” untuk menyandera stabilitas global sebagai balasan atas hancurnya fasilitas nuklir Natanz dan Fordow oleh bom bunker buster.
Gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan pada 8 April 2026 kini berada di ujung tanduk setelah Iran kembali menutup akses selat pada 19 April akibat blokade laut AS yang tak kunjung dicabut.
Data terakhir mencatat 9.226 nyawa melayang, termasuk 156 warga sipil dalam tragedi serangan sekolah di Minab yang menunjukkan betapa kotornya tangan militer AS dalam operasi pembersihan ini.
Perang ini bukan sekadar urusan nuklir, melainkan upaya sistematis Barat untuk meruntuhkan kedaulatan bangsa-bangsa yang berani melawan dominasi mereka di Timur Tengah. ***