Strategi Dedolarisasi Indonesia Picu Lonjakan Transaksi LCT Hingga 163 Persen

Ilustrasi Dollar

nusantaramerdeka.id — Indonesia mempertegas kedaulatan ekonomi nasional dengan mengakselerasi kebijakan dedolarisasi bertahap melalui kerangka Local Currency Transaction (LCT) guna memangkas dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional.

Data terbaru April 2026 menunjukkan performa gemilang di mana transaksi LCT Januari-Februari 2026 menembus angka $8,45 miliar, melonjak drastis sebesar 163 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Langkah strategis ini bukan sekadar tren, melainkan upaya konkret memperkuat ketahanan ekonomi dari volatilitas global dengan mengalihkan transaksi ke mata uang mitra utama seperti Yuan, Yen, Ringgit, dan Baht.

Sektor BUMN kini telah berpartisipasi aktif dalam transaksi LCT dengan kontribusi mencapai 10 hingga 19 persen, yang membuktikan keberpihakan korporasi negara terhadap stabilitas rupiah.

LCT Memerdekakan Transaksi dari Ketergantungan Dolar

Pemerintah menegaskan bahwa penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral merupakan instrumen vital agar ekonomi domestik tidak lagi tersandera oleh kebijakan moneter Amerika Serikat.

Integrasi ini memungkinkan pelaku usaha melakukan penyelesaian pembayaran secara langsung tanpa perlu melalui konversi ke dolar AS yang seringkali memakan biaya tambahan dan risiko nilai tukar.

Baca Juga :  Gebrakan QRIS di China: Indonesia Pukul Mundur Dominasi Dolar

LCT memungkinkan transaksi antar negara bisa dilakukan tanpa tergantung mata uang dollar AS, tegas Ferry Irawan, Deputi Kemenko Perekonomian pada 11 April 2026.

Efisiensi pasar yang tercipta dari kebijakan ini telah menarik minat 14.621 pengguna aktif hingga Februari 2026, mencerminkan kepercayaan pasar yang tinggi terhadap skema transaksi non-dolar.

Sinergi Internasional dan Ekspansi Instrumen Moneter

Bank Indonesia terus memperluas jangkauan kerja sama LCT ke negara-negara mitra strategis guna memastikan ekosistem valuta asing nasional tetap stabil dan beragam secara global.

Hingga November 2025, nilai transaksi LCT dengan China saja sudah mendekati angka $7 miliar, yang menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam adopsi mata uang regional di Asia Tenggara.

Kami terus memperluas transaksi mata uang lokal kami, tidak hanya dengan negara anggota ASEAN, tetapi juga dengan China dan Jepang. Transaksi yang dicatat Indonesia dengan China menggunakan mata uang lokal telah mencapai hampir $7 miliar, ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia pada 4 November 2025.

Baca Juga :  Rupiah Jeblok Tembus 17.600, BI Gempur Pasar Valas Lintas Benua

Keberhasilan ini didukung oleh peluncuran instrumen moneter dalam Yuan dan Yen yang memungkinkan operasi pasar uang menjadi lebih fleksibel dan terintegrasi dengan kebutuhan sektor riil. ***