nusantaramerdeka.id — Pemerintah memastikan ketersediaan energi nasional tetap terjaga dan terkendali meski ketegangan militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu disrupsi jalur distribusi global di Selat Hormuz.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa ketahanan energi dalam negeri saat ini berada pada posisi stabil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Langkah antisipasi telah disiapkan guna menghadapi fluktuasi harga minyak dunia yang telah menembus angka di atas USD 100 per barel.
“Ketersediaan BBM dan elpiji masih aman hingga 21 hari ke depan,” ujar Bahlil Lahadalia pada Maret 2026. Angka tersebut merupakan standar minimum nasional yang menjadi bantalan utama pemerintah dalam menjaga stabilitas distribusi energi di seluruh pelosok tanah air.
Respons Tegas Pemerintah Hadapi Geopolitik
Konflik di Timur Tengah menyebabkan kekhawatiran besar mengingat Selat Hormuz mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan LPG kini mulai melakukan diversifikasi sumber pasokan untuk mengurangi risiko ketergantungan.
Pemerintah juga menyiapkan skenario darurat jika harga minyak melonjak tajam hingga menyentuh angka USD 150 per barel. Saat ini, fokus utama adalah memastikan distribusi ke daerah di luar Pulau Jawa tetap lancar tanpa ada hambatan logistik yang berarti.
Mitigasi Dampak Pasca April 2026
Meskipun saat ini kondisi terkendali, pemerintah memprediksi tantangan sesungguhnya akan muncul setelah bulan April. Stok cadangan BBM, LPG, dan minyak mentah terus dipertebal untuk menjamin tidak ada kelangkaan yang mengganggu aktivitas ekonomi warga.
Dirjen Migas ESDM Laode Sulaeman menyatakan bahwa dampak perang belum akan terasa secara instan pada masa Ramadan dan Lebaran tahun ini. Namun, pengawasan ketat terhadap pergerakan suplai global terus dilakukan setiap hari.
“Dampaknya akan mulai terasa setelah April, kita siapkan stok BBM, LPG, dan crude oil,” tegas Laode Sulaeman pada 12 Maret 2026. Hal ini menjadi sinyal bahwa pemerintah bekerja cepat melakukan alih impor energi dari Timur Tengah ke Amerika Serikat untuk mengamankan stok dalam negeri.
Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan turut meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Menurutnya, seluruh instrumen kebijakan fiskal dan teknis telah disiagakan untuk meredam gejolak eksternal.
“Tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan, semua masih manageable,” kata Luhut Binsar Pandjaitan pada 11 Maret 2026. Pemerintah terus memantau produksi minyak domestik yang berada di angka 605 ribu barel per hari guna menopang konsumsi nasional sebesar 1,3 juta barel per hari. ***