nusantaramerdeka.id – Serangan drone Israel di kota Attiri, Lebanon selatan, menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya, termasuk sejumlah pelajar yang berada di bus sekolah. Insiden ini kembali memicu eskalasi ketegangan di wilayah perbatasan.
Mobil Dihantam Rudal, Bus Sekolah Turut Jadi Korban
Serangan yang dilaporkan TRT World itu menargetkan sebuah mobil di kota Attiri. Pada saat yang sama, sebuah bus sekolah melintas tepat di belakang kendaraan yang disasar.
Menurut laporan National News Agency (NNA), serpihan ledakan menghantam para pelajar dan sopir bus karena jarak keduanya hanya terpaut beberapa meter.
Mobil tersebut terbakar hebat dan tim pertahanan sipil dikerahkan untuk memadamkan api. Semua korban luka dievakuasi ke Rumah Sakit Salah Ghandour di Bint Jbeil.
Serangan Susulan Setelah 13 Warga Tewas di Kamp Pengungsi
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah serangan udara Israel di kamp pengungsi Palestina Ein el-Hilweh, Sidon, yang menewaskan sedikitnya 13 orang.
Militer Israel mengklaim operasi tersebut menargetkan anggota Hamas, namun kelompok itu membantah pernyataan tersebut.
Dua Serangan Drone Lainnya Tewaskan Dua Orang
Masih di hari yang sama, dua serangan drone menghantam kendaraan di Bint Jbeil dan Blida, menewaskan dua orang. Israel menyebut korban merupakan anggota Hizbullah yang terlibat dalam pembangunan jaringan dan pengumpulan intelijen.
Ketegangan Meningkat, Serangan Udara Hampir Terjadi Setiap Hari
Ketegangan di Lebanon selatan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Serangan udara Israel dilaporkan berlangsung hampir setiap hari dengan alasan menargetkan infrastruktur dan anggota Hizbullah.
Sejak konflik pecah pada Oktober 2023 dan meningkat menjadi operasi besar-besaran pada September 2024, lebih dari 4.000 warga Lebanon tewas dan hampir 17.000 lainnya terluka.
Penarikan Pasukan Israel Tak Sepenuhnya Terealisasi
Dalam kesepakatan gencatan senjata November 2024, Israel dijadwalkan menarik pasukannya dari Lebanon selatan pada Januari 2025. Namun hingga kini, penarikan hanya dilakukan sebagian.
Pasukan Israel masih menempati lima pos perbatasan dan terus melakukan operasi, memicu kekhawatiran krisis akan kembali membesar.