Sumpah Pemuda, hasil Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928, menunjukkan bahwa persatuan Indonesia dibangun dari kesediaan, bukan dari kesamaan. Menurut penulis sebuah tulisan opini yang menelaah dasar persatuan itu, kesediaan tersebut masih diuji dalam kehidupan sehari-hari di negeri yang memiliki lebih dari 1.200 kelompok suku, 694 bahasa, dan 17.001 pulau.
Angka-angka itu bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data pulau mengacu pada pemutakhiran data administrasi wilayah dan pulau pada 2022, sedangkan 694 bahasa adalah bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Ditambah beragam agama, Indonesia tidak berdiri di atas satu bahasa ibu, satu suku, atau satu tradisi.
Geografi pun tidak banyak membantu. Menurut penulis, tinggal di wilayah yang sama tidak otomatis melahirkan identitas yang sama, dan kedekatan tempat tidak selalu membuat orang merasa senasib secara politik. Yang dibutuhkan adalah kemauan membangun identitas bersama.
Pemuda Bergerak Sebelum Negara Lahir
Pada 1928 Indonesia belum merdeka. Para pemuda dari berbagai organisasi dan daerah berkumpul di Kongres Pemuda II untuk merumuskan gagasan tentang tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan. Menurut catatan Museum Sumpah Pemuda, kongres itu melahirkan keputusan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda, dengan tiga pokok ikrar: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.
Penulis menilai isi ikrar hanya separuh cerita. Separuh lainnya adalah keberanian politik di baliknya.
Para pemuda itu tidak menunggu seluruh masyarakat memiliki kebudayaan yang sama. Mereka juga tidak meminta orang meninggalkan identitas lokal. Indonesia ditetapkan sebagai identitas bersama di atas perbedaan yang sudah ada, sehingga menurut penulis, Indonesia bukan semata kenyataan geografis, melainkan cita-cita politik yang diperjuangkan. Sumpah Pemuda disebut sebagai salah satu tonggak yang mengubah masyarakat beragam menjadi komunitas kebangsaan.
Bersatu Bukan Berarti Seragam
Penulis membedakan persatuan dari penyeragaman. Penyeragaman menuntut orang menjadi sama, sedangkan persatuan membiarkan orang tetap berbeda selama berkomitmen pada kehidupan bersama.
Seseorang bisa menjadi orang Jawa, Batak, Bugis, Minangkabau, Bali, atau Papua tanpa kehilangan keindonesiaannya. Bahasa daerah tetap bisa diwariskan, tradisi lokal tetap dijalankan, dan keyakinan agama tetap menjadi bagian hidup masyarakat. Bahasa Indonesia bekerja sebagai jembatan bagi warga yang tidak berbahasa ibu sama, dan ikrar satu bangsa memberi kerangka untuk memandang orang dari daerah lain sebagai sesama bagian Indonesia.
Lagu Indonesia Raya menambahkan dimensi emosional. Lagu itu pertama kali diperdengarkan pada kongres tersebut oleh Wage Rudolf Supratman. Menurut penulis, ikrar merumuskan gagasan, sedangkan lagu menghidupkan rasa kebersamaan ketika dinyanyikan warga berlatar belakang berbeda.
Ujian Persatuan di Luar Upacara
Apakah persatuan cukup dirawat lewat upacara, bendera, dan lagu kebangsaan? Penulis menjawab tidak. Persatuan juga diuji oleh cara negara memperlakukan warganya, lewat pertanyaan seperti:
- Apakah kesempatan memperoleh pendidikan cukup terbuka?
- Apakah masyarakat sudah memiliki hunian yang layak?
- Apakah warga di berbagai wilayah dapat mengakses layanan publik dengan layak?
- Apakah warga yang berbeda agama, bahasa, atau etnis diperlakukan setara?
Pertanyaan itu, kata penulis, tidak mengurangi makna Sumpah Pemuda. Justru ikrar kebangsaan membawa tanggung jawab lebih besar daripada sekadar mengucapkannya. Jika Indonesia adalah proyek bersama, setiap warga perlu merasa punya tempat di dalamnya.
Penulis juga mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda sering diperingati sebagai kisah sukses persatuan, padahal persatuan menuntut pilihan dan usaha yang terus diperbarui. Indonesia menjadi satu bukan karena perbedaannya hilang, tetapi karena perbedaan itu tidak dijadikan alasan menolak hidup bersama. Satu tanah air tidak berarti satu kampung, satu bangsa tidak berarti satu suku, dan satu bahasa persatuan tidak berarti satu bahasa ibu.
Menurut penulis, selama komitmen untuk menjadi satu tanpa harus menjadi sama itu dirawat dalam kehidupan nyata, Sumpah Pemuda akan tetap lebih dari sekadar sejarah. Ia menjadi pekerjaan setiap generasi.