Mancanegara

Pemilu Israel Tanpa Pemenang Jelas, Netanyahu Terancam Tersingkir

Gadi Eisenkot klaim unggul dari Netanyahu berdasarkan exit poll pemilu Israel. - dok Reuters
Gadi Eisenkot klaim unggul dari Netanyahu berdasarkan exit poll pemilu Israel. - dok Reuters

Pemilu Israel pada Selasa (27/10/2026) berakhir tanpa pemenang yang jelas, menurut exit poll tiga jaringan televisi besar Israel. Blok oposisi pimpinan Gadi Eisenkot diproyeksikan unggul dua kursi atas kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yakni 52 berbanding 50 kursi, tetapi keduanya belum punya jalan pasti membentuk pemerintahan.

Komisi Pemilihan Umum Pusat Israel mencatat partisipasi pemilih 77,7 persen. Itu angka tertinggi dalam lebih dari dua dekade, sekitar 7 poin persentase di atas pemilu 2022. Antrean panjang terlihat di luar tempat pemungutan suara.

Sebanyak 18 kursi lain diperkirakan jatuh ke partai-partai Arab yang tidak berafiliasi dengan kedua blok. Eisenkot, pemimpin Partai Yashar, hampir sepenuhnya menutup kemungkinan berkoalisi dengan mereka. Sikap itu mempersulit langkahnya menuju mayoritas, meski bloknya unggul di atas kertas.

Hasil berbeda datang dari sejumlah media Israel, termasuk Channel 14 yang dikenal pro-Netanyahu. Mereka memperkirakan Netanyahu dan partai pendukungnya mengamankan total 60 kursi. Hasil resmi baru diumumkan beberapa hari lagi.

Knesset memiliki 120 kursi dan belum pernah ada satu partai pun yang meraih 61 kursi secara langsung. Koalisi karena itu menjadi pola yang lazim, dan partai-partai kecil bisa menjadi penentu.

Oposisi Menguat, Netanyahu Terancam

Yohanan Plesner, Presiden Israel Democracy Institute, menyebut hasil exit poll sebagai kekalahan besar bagi koalisi Netanyahu. Blok itu sebelumnya menguasai 68 kursi, kini diperkirakan hanya sekitar 50. Plesner menilai Eisenkot belum bisa disebut pemenang jelas karena hasil akhir masih bisa bergeser selama penghitungan.

Jika hasil resmi sesuai proyeksi, Eisenkot berpeluang mendapat kesempatan pertama menyusun koalisi. Ia bahkan bisa mencoba membentuk pemerintahan minoritas, meski usianya mungkin hanya sampai pemilu berikutnya. Di sisi lain, kebuntuan justru bisa menguntungkan Netanyahu, yang dapat terus menjalankan pemerintahan sementara selama partai-partai berunding.

Pemimpin oposisi Yair Lapid menyebut hasil itu kekalahan telak. "Jangan biarkan siapa pun membingungkan kalian: blok Netanyahu telah mengalami kekalahan telak. Ini merupakan keruntuhan total dan rakyat telah menyuruh mereka untuk pulang," kata Lapid, dilansir Reuters.

Eisenkot, 66 tahun, mantan kepala militer, tampil sebagai penantang terkuat. Ia kehilangan seorang putra dan dua keponakan dalam perang di Gaza. Ia baru terjun ke politik sekitar empat tahun lalu, lalu bergabung dengan kabinet perang Netanyahu setelah serangan Hamas 2023 dan mundur delapan bulan kemudian karena mengkritik kepemimpinan sang perdana menteri.

Dalam kampanye, Eisenkot mengandalkan rekam jejak keamanan sambil memosisikan diri berhaluan tengah dalam urusan domestik. Di bidang keamanan, ia tidak menawarkan pergeseran besar dari pendekatan keras yang mengakar sejak 2023. Ia menentang pembentukan negara Palestina dan menyatakan sayap militer Hamas harus dihancurkan atau dilucuti. Namun ia menilai respons Israel gagal: perang telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina menurut otoritas kesehatan Gaza, sementara Hamas masih berkuasa.

Pemimpin Partai Demokrat Yair Golan, lawan politik Netanyahu lainnya, berpidato di depan pendukungnya setelah pemungutan suara ditutup. "Bangsa ini telah memberikan kepada kita tugas suci: menerjemahkan kepercayaan yang mereka berikan kepada kita menjadi tindakan, memperkuat demokrasi, menyelamatkan Israel, dan memberikan perlindungan nyata bagi negara," tuturnya.

Suasana meriah terjadi di markas Joint List, aliansi sejumlah partai Arab. Pendukung bersorak dan bertepuk tangan saat exit poll diumumkan. "Kami menolak pendudukan dan rasisme, dan kami akan tetap berada di sini," ujar Faten Gattas, kandidat Joint List, dalam pidatonya di Nazareth. Para kandidat berharap tingginya partisipasi pemilih Arab menempatkan mereka sebagai penentu untuk mencegah koalisi Netanyahu, yang dianggap pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel, kembali berkuasa.

Bayang-bayang 7 Oktober dan Rekam Jejak Netanyahu

Pemilu digelar saat masyarakat Israel masih dibayangi serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang disandera. Serangan itu disusul perang di Gaza, konflik dengan Hizbullah di Lebanon, dan perang melawan Iran.

Netanyahu, 77 tahun, sudah hampir 19 tahun menjabat perdana menteri dalam tiga dekade terakhir. Ia dikritik keras atas kegagalan keamanan dan intelijen yang membuka jalan bagi serangan 2023. Netanyahu berdalih langkah militernya, termasuk pembunuhan sejumlah pemimpin senior Hamas, Hizbullah, dan Iran, membuat Israel dan dunia lebih aman. Ia juga masih menghadapi tuduhan korupsi yang terus dibantahnya.

Kebijakan koalisi sayap kanannya memicu perpecahan di dalam negeri dan memperdalam isolasi Israel di tingkat internasional. Sejak 2009, lawan-lawannya hanya sekali berhasil menyingkirkannya, yakni setelah empat pemilu dalam dua tahun tanpa pemenang jelas. Hanya 18 bulan kemudian, ia kembali berkuasa.

Dalam pemilu kali ini, Netanyahu berkampanye dengan bersandar pada dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sekutunya dalam perang melawan Iran.