Holland Taylor dan Jejak Panjang dan Kekhawatiran Infiltrasi ke Ormas Indonesia

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (tengah) diapit C. Holland Taylor dari CSCV (kiri) dan Syekh Abdurrahman al-Khayyat, Ketua Liga Muslim Dunia untuk Asia Tenggara dan Australia (kanan), mengeluarkan Komunike R20 di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta, Jumat, 4 November 2022). – Istimewa

nusantaramerdeka.id — Pencabutan penunjukan C. Holland Taylor sebagai penasihat khusus PBNU oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar pada 23 November 2025 membuka kembali diskusi tajam soal kewaspadaan terhadap potensi infiltrasi jaringan ideologi asing, termasuk Zionis, ke dalam organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.

Taylor bukan figur baru. Dokumen Wikileaks mencatat keterlibatannya dalam mengorganisir kunjungan lima tokoh Islam Indonesia ke Israel pada 2008 bersama The Simon Wiesenthal Center.

Akademisi UIN Sunan Kalijaga, Lien Iffah Naf’atu Fina, dalam artikelnya (16/7/2024), menyebut langkah itu sebagai diplomasi pluralisme—namun tetap memicu kritik keras di dalam negeri.

Taylor juga memimpin Center for Shared Civilizational Values (CSCV), lembaga berbadan hukum AS yang kerap terkait inisiatif global PBNU.

Sebelumnya, ia mendirikan LibForAll Foundation bersama Gus Dur (2003) dan terlibat dalam pembentukan IIQS (2009). Rekam jejak itu menunjukkan kedekatan Taylor dengan elite NU selama dua dekade.

Meski banyak programnya berorientasi dialog antaragama, pola hubungan intens dengan lingkungan ormas besar memunculkan kekhawatiran publik tentang kemungkinan celah masuknya agenda eksternal.

Baca Juga :  Kiai Sepuh Tebuireng Koreksi Pemakzulan, Peta Konflik PBNU Berubah

Di bagian terpisah, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan tidak memiliki hubungan dengan Israel maupun Zionis. “Tidak ada afiliasi apa pun,” ucapnya di Surabaya, Minggu (23/11/2025). (*)