nusantaramerdeka.id — Borobudur kembali menegaskan kapasitas teknologi Nusantara masa lalu. Data Kemdikbud dalam Candi Indonesia: Seri Jawa (2013) mencatat candi ini dibangun bukan di atas tanah padat sebagaimana candi Jawa lain, tetapi dengan memahat bukit dan menyesuaikannya dengan desain arsitek Gunadharma. Fondasi luar ditanam satu meter ke tanah dan bertumpu pada batu karang—struktur yang menunjukkan keberanian peradaban memilih jalur sulit demi ketepatan teknis.
Sekitar dua juta balok andesit disusun tanpa semen, dengan teknik interlock alami untuk meredam guncangan gempa. Pemahat memproduksi 1.460 panel relief dan 504 arca Buddha dengan presisi tiga dimensi. Teknologi ini bukan klaim, melainkan fakta arkeologis berbasis penelitian.
Borobudur juga memiliki sistem drainase tersembunyi yang mengalirkan air hujan dari sela batu. Lokasinya di kawasan Sungai Progo–Elo memperkuat kestabilan hidrologi. “Keberadaan Borobudur layaknya saujana dalam cekungan bejana di antara gunung-gunung,” ujar Dwita Hadi Rahmi dari UGM (diakses 2025).
Pemilihan lokasi di dataran Kedu pada ketinggian 265 mdpl memperlihatkan kecermatan geografi. Transportasi air digunakan untuk memindahkan batu andesit, dilanjutkan rel bambu menuju titik konstruksi.
Penelitian arkeoastronomi pun menunjukkan orientasi Borobudur sejalur Merapi–Sumbing dan titik solstis, menandai bahwa masyarakat Jawa kala itu menggabungkan teknologi, astronomi, dan spiritualitas dalam satu sistem pengetahuan utuh.
Data-data ini menegaskan Borobudur adalah bukti nyata kecanggihan Nusantara. (*)