UGM Tegaskan Deforestasi Jadi Akar Banjir Bandang Sumatera

Izin 28 Perusahaan dicabut akibat Deforestasi dan penambangan

nusantaramerdeka.id — Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 berakar pada kerusakan hutan yang berlangsung bertahun-tahun.

Dalam keterangan resmi UGM, Rabu (3/12/2025), ia menyatakan curah hujan ekstrem hanyalah pemicu, sementara keruntuhan fungsi ekologis hulu DAS adalah fondasi utama bencana. Ia menjelaskan bahwa hilangnya hutan membuat tanah kehilangan kemampuan menahan dan menyerap air, sehingga limpasan meningkat drastis ketika hujan turun.

Aceh selama 30 tahun terakhir kehilangan lebih dari 700 ribu hektare hutan. Sumatera Utara hanya menyisakan sekitar 29 persen tutupan hutan pada 2020, sebagian besar dalam kondisi terfragmentasi. Di Sumatera Barat, deforestasi mencapai 740 ribu hektare sejak 2001, termasuk 32 ribu hektare yang hilang sepanjang 2024.

Hatma menyebut kerusakan itu sebagai tanda rapuhnya benteng ekologis Sumatera. Ekosistem Batang Toru, yang seharusnya menjadi sabuk pengaman paling penting di Sumut, kini juga terdegradasi oleh konsesi, penebangan, perkebunan, dan aktivitas tambang.

Baca Juga :  Izin 28 Perusahaan Dicabut, Korporasi Digugat Rp 4,8 Triliun

Hujan lebih dari 300 milimeter per hari yang dipicu dinamika atmosfer dan pengaruh Siklon Tropis Senyar akhirnya melampaui kapasitas alam yang sudah menurun. “Ketika hulu kehilangan penyangga, hujan berapa pun akan menghantam hilir tanpa peredam,” tegasnya. Hatma menyebut kejadian ini sebagai “akumulasi dosa ekologis” yang menunjukkan rusaknya tata kelola kawasan hulu.

Ia menyerukan pemulihan segera melalui penegakan tata ruang, penghentian deforestasi, reforestasi besar-besaran, dan penguatan sistem peringatan dini. Teknologi modifikasi cuaca dapat dipertimbangkan dalam kondisi darurat, namun, menurutnya, tidak ada inovasi yang mampu menggantikan fungsi hutan yang utuh.