nusantaramerdeka.id – Gempa Pacitan M6,2 mengguncang selatan Jawa pada Jumat dini hari, 6 Februari 2026 pukul 01.06 WIB. Pusat gempa berada di laut sekitar 89 km tenggara Kota Pacitan dengan kedalaman 58 km. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa berasal dari zona megathrust selatan Jawa dan tidak berpotensi tsunami. Dampak langsung muncul di lapangan: rumah rusak, korban luka, dan operasional kereta api sempat terganggu.
Getaran terasa kuat di Pacitan, Bantul, dan Sleman dengan intensitas IV MMI. Wilayah lain seperti Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, Blitar, hingga Surakarta merasakan guncangan tingkat sedang. Tuban dan Jepara mengalami getaran ringan.
Data Kerusakan: Fokus pada Wilayah Terdampak
Secara faktual, kerusakan paling parah terjadi di Pacitan. Satu rumah dilaporkan rusak berat hingga ambruk. Di Wonogiri, satu rumah mengalami kerusakan ringan berupa genteng rontok. Bantul mencatat beberapa rumah rusak ringan dengan dinding retak dan plafon ambrol, sementara Sleman melaporkan kerusakan ringan pada bangunan warga.
BPBD Bantul juga mencatat dampak lebih luas dengan total 13 titik bangunan terdampak. Lokasinya meliputi rumah warga, fasilitas pendidikan, tempat ibadah, fasilitas kesehatan, serta bangunan pemerintah. Di sisi lain, korban luka di Bantul mencapai 15 orang dan menjalani perawatan di beberapa rumah sakit.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menegaskan gempa memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrusting. Ia menyebut magnitudo gempa tidak mencapai 7,0 sehingga risiko tsunami tidak muncul.
Respons Cepat di Lapangan
Petugas BPBD langsung melakukan pendataan dan koordinasi dengan aparat setempat. Warga diimbau tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Hingga pukul 01.35 WIB, BMKG belum mendeteksi aktivitas susulan yang signifikan.
Di lapangan, pemeriksaan struktur bangunan menjadi prioritas untuk mencegah risiko lanjutan. Petugas juga memverifikasi laporan kerusakan secara bertahap agar data bantuan akurat.
Gangguan Transportasi: Kereta Api Dihentikan Sementara
Dampak gempa juga menjalar ke sektor transportasi. Sejumlah perjalanan kereta api di wilayah Daop 8 Surabaya mengalami keterlambatan. KA Matarmaja, KA Ijen Ekspres, KA Limas, dan kereta cargo termasuk yang terdampak.
Manager Humas Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono menjelaskan bahwa “Penghentian sementara perjalanan kereta api melalui prosedur Berhenti Luar Biasa dilakukan sebagai langkah antisipatif.” Pemeriksaan jalur rel, jembatan, dan fasilitas pendukung dilakukan sebelum operasional kembali normal.
Setelah dinyatakan aman, perjalanan kereta kembali berjalan sesuai jadwal. Dampaknya jelas: gempa Pacitan M6,2 tidak hanya terasa pada bangunan, tetapi juga langsung mempengaruhi mobilitas regional dalam waktu singkat.