nusantaramerdeka.id — Empat pelaut Indonesia bertahan di bawah ancaman senjata perompak Somalia setelah kapal tanker MT Honour 25 dibajak di perairan internasional pada Selasa (21/4/2026) lalu.
Kapten Ashari Samadikun bersama tiga kru WNI lainnya, Adi Faizal, Wahudinanto, dan Fiki Mutakin, kini disandera kelompok bersenjata saat berlayar membawa 18.500 barel minyak.
Kondisi terkini hingga Rabu (29/4/2026) mengonfirmasi para sandera masih selamat meski berada dalam pengawasan ketat kelompok pembajak di dalam perairan teritorial Somalia.
Ashari Samadikun menunjukkan nyali besar dengan melakukan manuver taktis demi menghambat pergerakan para perompak yang menguasai kapalnya.
Ia sengaja menahan posisi kapal tanker berbendera Oman tersebut agar tidak merapat terlalu dekat ke daratan utama Somalia demi keselamatan kru.
“Saya tahan kapal sekitar lima mil dari darat, supaya tidak mudah naik tambahan orang,” ujar Ashari Samadikun melalui komunikasi telepon singkat pada Jumat (24/4/2026).
Pilihan berisiko ini diambil untuk mencegah eskalasi jumlah pembajak yang bisa naik ke atas kapal jika posisi kapal terlalu dekat dengan pesisir.
Ashari mengakui situasi sangat mencekam karena para perompak terus melakukan intimidasi fisik dan mental selama proses penyanderaan berlangsung.
“Sudah beberapa kali saya ditodong, diancam ditembak. Empat kali mereka ancam kepala saya,” ungkap kapten asal Gowa tersebut dengan nada tegar.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bergerak cepat merespons situasi ini dengan mengedepankan jalur diplomasi tanpa kegaduhan demi menjamin nyawa para pelaut.
Fokus utama pemerintah adalah memastikan penanganan dilakukan secara hati-hati agar tidak memicu reaksi agresif dari kelompok perompak bersenjata tersebut.
Heni Hamidah, Direktur PWNI Kemlu RI, menyatakan pada Selasa (28/4/2026) bahwa koordinasi intensif terus dilakukan melalui KBRI Nairobi dengan otoritas Somalia.
Langkah ini melibatkan tokoh masyarakat setempat dan pihak-pihak yang memiliki pengaruh di wilayah perairan yang dikenal rawan aksi kriminalitas laut tersebut.
Pihak keluarga di tanah air telah mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengambil tindakan nyata guna membebaskan para pahlawan devisa ini.
“Saya minta tolong ke Pak Prabowo, minta tolong bantu anak saya,” tutur Sitti Aminah, ibu kandung Ashari, saat menyampaikan aspirasinya pada Minggu (26/4/2026). ***