Kredit Menganggur Rp 2.527 Triliun Bukti Pengusaha Masih Ragu Ekspansi

Ilustrasi Pelayanan KUR di BRI

nusantaramerdeka.id — Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan nilai fasilitas kredit yang belum digunakan atau undisbursed loan mencapai Rp 2.527,46 triliun pada posisi Maret 2026.

Angka raksasa ini mencerminkan paradoks besar di mana likuiditas perbankan sangat melimpah namun aliran dana ke sektor riil justru tersumbat oleh sikap skeptis para pelaku usaha.

Pertumbuhan kredit memang tercatat melesat 9,49 persen secara tahunan, tetapi dana menganggur di brankas bank ini menunjukkan mesin ekonomi belum bekerja dalam kapasitas penuh.

Indonesia saat ini sedang menghadapi situasi di mana plafon kredit tersedia luas, namun para pengusaha lebih memilih menyimpan komitmen pinjaman tersebut daripada mencairkannya untuk produksi.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menegaskan tantangan utama industri perbankan saat ini bukan masalah likuiditas melainkan lemahnya permintaan dari dunia usaha.

“Rata-rata undisbursed loan justru meningkat, menunjukkan fasilitas kredit yang sudah disetujui belum sepenuhnya ditarik oleh nasabah, ini mencerminkan sikap wait and see,” tegas Hery pada 29 April 2026.

Baca Juga :  Lawan Fitch Ratings, Menkeu Purbaya Siap Pasang Badan Kejar Pertumbuhan 8 Persen

Pernyataan ini mengonfirmasi bahwa sektor swasta masih ragu terhadap stabilitas daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya dari tekanan ekonomi global belakangan ini.

Kondisi tersebut diperparah dengan tren deflasi lima bulan berturut-turut yang sempat terjadi, yang secara psikologis membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menambah kapasitas operasional harian mereka.

Fenomena kredit menganggur ini memicu kritik tajam mengenai efektivitas keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menempatkan dana Rp 300 triliun kas negara ke perbankan.

Injeksi dana pemerintah tersebut berpotensi hanya menjadi tumpukan angka mati yang mempertebal rasio likuiditas bank tanpa memberikan dampak instan pada perputaran uang di masyarakat bawah.

Jika masalah utamanya adalah rendahnya permintaan kredit, maka menambah pasokan uang ke perbankan tidak akan otomatis menggerakkan roda ekonomi yang sedang stagnan di sektor konsumsi.

Bank Indonesia kini berusaha memecah kebuntuan ini melalui program PINISI 2026 untuk mempertemukan korporasi yang membutuhkan dana dengan bank-bank yang memiliki kelebihan plafon yang sangat besar.

Pertumbuhan ekonomi nasional pada angka 4,9 hingga 5,7 persen sulit tercapai jika dana ribuan triliun ini tetap mengendap dan tidak segera dikonversi menjadi aktivitas produksi nyata. ***

Baca Juga :  Rupiah Remuk Rp17.600, DPR Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur