Lautan Manusia No Kings Guncang AS Penolakan Keras Terhadap Kediktatoran

Demonstrasi No Kings

nusantaramerdeka.id — Amerika Serikat lumpuh total saat lebih dari 9 juta massa tumpah ruah ke jalanan dalam aksi demonstrasi terbesar dalam sejarah negara tersebut bertajuk No Kings 3.0.

Gelombang protes masif yang berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026 ini menyasar kebijakan otoriter administrasi Presiden Donald Trump yang dinilai mengkhianati nilai-nilai demokrasi Amerika Serikat.

Massa yang beringas namun terorganisir menuntut penghentian segera Perang Iran dan penghapusan kebijakan imigrasi agresif yang telah memakan korban jiwa warga sipil.

Gerakan Rakyat Meluas Hingga Basis Konservatif

Aktivis kawakan sekaligus pendiri Indivisible, Leah Greenberg, menegaskan bahwa kekuatan aksi kali ini terletak pada persebaran wilayah yang tidak lagi didominasi kota besar.

“Cerita definitif dari mobilisasi Sabtu ini bukan hanya berapa banyak orang yang protes, tapi di mana mereka protes,” tegas Leah Greenberg dalam keterangannya di hadapan massa pada 28 Maret 2026.

Data menunjukkan aksi terjadi di 3.300 lokasi termasuk wilayah basis Republik seperti Idaho dan Wyoming, menandakan perlawanan rakyat sudah menembus batas partisan.

Baca Juga :  Iran Bentuk Dewan Baru, Bayang-Bayang Ayatollah Khomeini

Aksi di St. Paul, Minnesota, menjadi pusat perhatian dunia saat legenda musik Bruce Springsteen tampil membakar semangat ratusan ribu demonstran yang hadir.

Springsteen bahkan mempersembahkan lagu khusus untuk mengenang korban penembakan agen federal sembari menegaskan bahwa rakyat tidak akan tinggal diam melihat invasi di kota-kota Amerika.

Tuntutan Tegas Hentikan Perang dan Otoritarianisme

Di New York, aktor Robert De Niro menyampaikan pidato berapi-api yang menyebut kepemimpinan saat ini sebagai ancaman eksistensial terhadap kebebasan dan keamanan nasional.

“Tidak ada yang menjadi ancaman eksistensial terhadap kebebasan dan keamanan kita seperti ini,” ujar Robert De Niro saat berorasi di tengah kerumunan 350.000 orang di New York City (28/03/2026).

Isu utama yang diusung adalah penolakan terhadap keterlibatan militer AS-Israel di Iran yang telah memasuki minggu keempat tanpa urgensi pertahanan yang jelas.

Selain itu, kemarahan publik memuncak akibat tewasnya warga negara AS, Renée Good dan Alex Pretti, di tangan agen ICE yang dianggap bertindak di luar batas kemanusiaan.

Baca Juga :  Iran Rilis Daftar 13 Pemimpin Dunia Target Pembalasan Dendam

Sentimen negatif terhadap pemerintah ini tercermin dari anjloknya rating persetujuan Trump hingga ke angka 36 persen, titik terendah sejak ia kembali menjabat di Gedung Putih.

Meskipun di beberapa titik seperti Los Angeles terjadi gesekan kecil dengan aparat, secara keseluruhan gerakan No Kings membuktikan bahwa rakyat Amerika siap merebut kembali kedaulatan mereka.

Aksi ini menjadi sinyal merah bagi para penguasa menjelang pemilihan paruh waktu mendatang bahwa suara rakyat tidak bisa lagi dibungkam dengan narasi kebencian.***