nusantaramerdeka.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pasang badan menangkis kritik atas lonjakan utang luar negeri Indonesia yang kini nyaris menyentuh angka psikologis Rp7.999 triliun. Pemerintah menolak tunduk pada kekhawatiran nominal dan menantang pengkritik melihat kapasitas riil ekonomi domestik.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Purbaya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat pada Rabu, 15 Juli 2026 malam. “Jadi kita selalu bandingkan dengan size ekonominya jangan nominalnya aja,” ujar eks Bos LPS tersebut dengan nada lugas.
Menurut data Bank Indonesia, utang luar negeri tumbuh 2,1 persen secara tahunan hingga mencapai USD 444,4 miliar. Alih-alih cemas, Menkeu menggunakan analogi kredit perusahaan untuk menegaskan bahwa kapasitas bayar Indonesia masih sangat tebal.
Rasio Maastricht Treaty Jadi Tameng Fiskal
Pemerintah mengeklaim pengelolaan fiskal nasional jauh lebih disiplin dibandingkan dengan negara-negara maju yang kolaps secara rasio. Posisi rasio utang Indonesia saat ini bertahan di angka 40 persen dari Produk Domestik Bruto.
“Harusnya di bawah 60% kita masih 40% jadi masih jauh. Itu ukuran kesinambungan utang memakai standar paling strict di dunia, Maastricht Treaty,” tegas Purbaya.
Menkeu Sebut Pengkritik Lokal Kalah Jeli dari S&P
Kementerian Keuangan menutup kuping dari kegaduhan domestik dengan memamerkan penilaian lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s. Rating BBB dengan outlook stabil dianggap bukti sahih bahwa manajemen anggaran negara berada di jalur yang benar.
Purbaya menutup argumennya dengan menegaskan jika kemampuan bayar negara bermasalah, peringkat investasi Indonesia dipastikan sudah anjlok sejak lama. Ketahanan APBN diklaim tetap kokoh berdiri di atas fondasi kalkulasi ekonomi, bukan sekadar ketakutan angka. ***