Penolakan terhadap pusat data kian meluas di berbagai negara, terutama di Amerika Serikat (AS) menjelang pemilihan sela 3 November 2026. Pemicunya adalah lonjakan jumlah fasilitas pendukung kecerdasan buatan (AI), konsumsi listrik yang besar, dan kekhawatiran soal dampak lingkungan.
Pusat data adalah bangunan raksasa mirip gudang yang menampung chip komputer canggih dan server. Dari situlah pencarian web, email, unduhan film, hingga layanan perbankan online berjalan. Layanan AI seperti ChatGPT dan Claude juga bergantung pada fasilitas ini.
Di AS, isu ini sudah jadi bahan perdebatan besar. Politisi Republik maupun Demokrat sama-sama menentang pengembangan pusat data, sehingga para penentang berhadapan langsung dengan Presiden Donald Trump. Ia menepis penolakan itu sebagai "konspirasi gila", sementara kemarahan publik terus naik.
Jumlahnya melonjak, AS paling banyak
Menurut Data Center Map, perusahaan yang memantau lokasi pusat data yang beroperasi maupun yang masih pra-operasi, ada sekitar 12.250 pusat data di dunia. Pada 2021, lokasi yang beroperasi baru sekitar 8.000.
AS memegang jumlah terbanyak dengan 4.767 lokasi, disusul Inggris dan Jerman. Untuk kapasitas aktual, AS unggul jauh, China di posisi kedua, dan Eropa tertinggal. Kesenjangan itu diperkirakan melebar. Sebagian pihak mengingatkan Eropa bisa kehilangan manfaat ekonomi dari booming AI.
Dulu pusat data biasanya berdiri dekat kota karena akses ke saluran listrik tegangan tinggi dan sumber air pendingin lebih gampang. Seiring skalanya membesar, makin banyak yang dibangun di pedesaan.
Dari 140 lapangan bola sampai turbin gas
Ukuran pusat data beragam, dari yang muat di gudang kebun sampai yang menempati lahan sangat luas. Yang terbesar dilaporkan ada di Hohhot, Mongolia, milik China Telecom. Luasnya satu juta meter persegi, setara 140 lapangan sepak bola standar FIFA.
Lokasi yang jauh lebih besar sedang dibangun, khusus untuk daya komputasi layanan AI. Salah satunya Colossus 2, bagian dari kompleks Colossus di AS. Fasilitas ini akan menampung ratusan ribu chip AI buatan Nvidia dan dipakai melatih chatbot Grok milik xAI.
Perusahaan milik Elon Musk itu berencana memakai 41 turbin gas metana untuk menyuplai daya. Aktivis menilai turbin tersebut dapat "secara signifikan meningkatkan" polusi udara lokal. Regulator setempat menyatakan turbin itu akan memenuhi standar kualitas udara.
Listrik, air, dan kebisingan
Pusat data dapat memakai air dalam jumlah besar untuk mendinginkan sistem. Menurut sejumlah ahli, hal ini berpotensi memicu kelangkaan air. Konsumsi listrik pusat data sedunia juga diperkirakan melampaui konsumsi seluruh Prancis.
Analisis menunjukkan kebutuhan listrik yang membengkak mendorong emisi karbon naik dan menekan jaringan listrik lokal. Sebagian pihak khawatir tekanan itu berujung pada kenaikan harga energi. Warga lain mengeluhkan kebisingan dan ruang yang dipakai fasilitas tersebut.
Sekitar 16 negara bagian di AS telah mengusulkan undang-undang untuk melarang atau menghentikan sementara pembangunan fasilitas baru. Di luar AS, penolakan juga muncul di Meksiko, Prancis, Indonesia, dan Inggris.
Klaim lapangan kerja diuji
Pendukung pusat data menyebut fasilitas ini penting bagi keamanan nasional dan pengembangan AI. Mereka juga mengklaim manfaat ekonomi berupa investasi, penerimaan pajak, dan lapangan kerja, misalnya di sektor konstruksi.
Laporan terbaru Brookings Center menemukan pusat data memang membuka lapangan kerja lokal, tetapi jumlahnya lebih sedikit daripada klaim industri. Jenis fasilitas ikut menentukan. Pusat data hyperscale, yaitu lokasi berskala besar milik raksasa teknologi seperti Amazon dan Microsoft, berdampak lebih positif pada lapangan kerja. Fasilitas colocation, yang menyewakan ruang ke penyewa jarak jauh tanpa kehadiran fisik di lokasi, memberi manfaat lebih kecil.
Pembangunan jalan terus, alternatif dijajaki
Industri teknologi diperkirakan menghabiskan US$765 miliar untuk infrastruktur AI tahun ini. Angkanya diproyeksikan melewati US$1 triliun pada 2027.
Di tengah kekhawatiran lingkungan, industri mulai menjajaki alternatif. Salah satu gagasannya menempatkan pusat data di luar angkasa atau di Bulan agar bisa memanfaatkan energi surya yang melimpah. Pihak lain memperkirakan pemrosesan AI pada akhirnya lebih banyak dilakukan perangkat keras yang sudah ada di komputer dan ponsel pintar, sehingga kebutuhan pusat data skala besar berkurang.