nusantaramerdeka.id — Jalur aktif Sesar Opak kembali menunjukkan aktivitasnya setelah gempa bumi tektonik dangkal berkekuatan Magnitudo 3,1 mengguncang wilayah Gunung Kidul dan sekitarnya pada Kamis pagi, 12 Februari 2026. Guncangan yang terjadi pukul 08:21:16 WIB tersebut berpusat di darat pada kedalaman sangat dangkal, yakni hanya 5 kilometer, yang memicu kepanikan singkat di kalangan warga.
Episenter gempa terletak di koordinat 7,89 LS dan 110,51 BT, tepatnya 16 kilometer arah Barat Laut Gunung Kidul, mendekati wilayah Kapanewon Patuk dan Dlingo. Meskipun magnitudonya relatif kecil, sifat gempa yang sangat dangkal membuat getaran terasa cukup nyata di permukaan tanah. Beberapa warga melaporkan sempat mendengar suara dentuman pelan sesaat sebelum guncangan berdurasi 3 detik terjadi.
Kepala Stasiun Geofisika Sleman BMKG, Ardhianto Septiadhi, menegaskan bahwa fenomena ini murni aktivitas tektonik lokal. “Gempa ini merupakan gempa tektonik dangkal. Mengingat kedalamannya yang hanya 5 km, guncangan memang terasa cukup nyata di permukaan meski magnitudonya kecil,” jelas Ardhianto dalam rilis resminya pada 12 Februari 2026.
Analisis Sesar Aktif
Tim investigasi mencatat lokasi episenter ini berkaitan erat dengan aktivitas Sesar Opak atau patahan lokal yang sejajar. Wilayah DIY memang memiliki atensi khusus bagi seismolog karena struktur tanahnya yang dapat mengamplifikasi getaran. Hingga Kamis siang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan tidak ada kerusakan bangunan maupun korban jiwa dalam peristiwa ini.
Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul, Purwono, menyatakan situasi di titik-titik terdampak seperti Patuk dan Gedangsari tetap kondusif. “Masyarakat tetap beraktivitas normal. Tidak ada laporan rumah retak atau rusak akibat getaran tadi pagi,” ujar Purwono dalam wawancara lapangan pada 12 Februari 2026. BMKG juga sempat mencatat satu kali gempa susulan Magnitudo 2,1 pada pukul 08:42 WIB. *