Selat Hormuz Membara, Harga Minyak Dunia Meledak Hingga US$81

Harga Minyak Mentah

nusantaramerdeka.id — Ketegangan bersenjata di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menyentuh US$81 per barel, memaksa pemerintah Indonesia menyesuaikan harga BBM nonsubsidi di tengah ancaman krisis energi global.

Konflik geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih paling berbahaya dalam satu dekade terakhir. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam jantung Teheran pada akhir Februari 2026 telah memicu balasan brutal dari Iran. Akibatnya, jalur distribusi minyak paling vital di dunia, Selat Hormuz, kini berada dalam blokade total.

Data menunjukkan bahwa harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat hingga US$81,05 per barel pada 3 Maret 2026, sebuah lompatan 3,64 persen hanya dalam hitungan jam.

Blokade Hormuz dan Ancaman Pasokan Minyak Global

Langkah Iran menutup Selat Hormuz bukan perkara sepele bagi ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Jalur ini merupakan urat nadi bagi 20 persen suplai minyak global. Gangguan di wilayah ini secara otomatis memutus rantai distribusi dan mengirimkan guncangan harga ke seluruh pasar internasional.

Baca Juga :  Prabowo ke Amerika, Siapkan Agreement on Reciprocal Trade

Brent Crude yang sebelumnya stabil kini merangkak naik ke kisaran US$78,83 per barel. Tren kenaikan tahunan yang tercatat mencapai 12 persen membuktikan bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja akibat ketergantungan pada energi fosil yang rentan konflik.

Situasi ini semakin pelik karena serangan balasan militer Iran tidak hanya menyasar aset militer, tetapi juga mulai mengganggu kapal-kapal tanker. UKMTO telah mengonfirmasi serangan terhadap tiga kapal di dekat Hormuz, yang memperparah kepanikan pasar. Jika eskalasi ini terus berlanjut tanpa ada deeskalasi dari pihak AS maupun Israel, para pelaku pasar khawatir pasokan minyak akan benar-benar terhenti total dalam waktu dekat.

Dampak Nyata di SPBU: Harga BBM Indonesia Naik

Imbas dari membara di Timur Tengah langsung terasa di saku rakyat Indonesia. Per 1 Maret 2026, harga BBM nonsubsidi resmi naik, dengan Pertamax kini dibanderol Rp12.300 per liter. Angka ini naik Rp500 dari periode sebelumnya, mencerminkan volatilitas harga minyak mentah yang tak terbendung. Tekanan inflasi mulai membayangi sektor distribusi dan transportasi nasional, yang jika dibiarkan akan menggerus daya beli masyarakat secara luas.

Baca Juga :  Prabowo Tegaskan Siap Keluar dari Board of Peace Demi Palestina

Direktur CORE Indonesia, Mohammad Faisal, memberikan peringatan keras atas situasi yang berkembang sangat cepat ini. “Konflik berlanjut, harga tembus US$100 jika Hormuz terganggu,” tegas Faisal dalam pernyataannya pada 28 Februari 2026. Ia menekankan bahwa gangguan di titik strategis seperti Hormuz adalah bencana bagi negara importir minyak. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah untuk memastikan ketahanan energi nasional tidak ikut hancur diterjang badai konflik di tanah Persia.