Ragam

Taufiq Ismail, Dokter Hewan yang Membangun Rumah Sastra Indonesia

Taufiq Ismail sedang membacakan puisi
Taufiq Ismail sedang membacakan puisi

Taufiq Ismail, penyair kelahiran Bukittinggi yang kini berusia 91 tahun, lebih dulu bergelar dokter hewan sebelum namanya lekat dengan sastra Indonesia. Dari bangku kedokteran hewan, ia melangkah ke majalah Horison, Dewan Kesenian Jakarta, dan Taman Ismail Marzuki.

Jalur yang tak lazim itu memunculkan pertanyaan menarik: apa yang dibawa seorang lulusan sains ke dunia kebudayaan?

Profil Singkat Taufiq Ismail

  • Lahir: Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935
  • Dibesarkan: Pekalongan, Jawa Tengah
  • Orang tua: K.H. Abdul Gaffar Ismail (ulama Muhammadiyah asal Banuhampu, Agam) dan Sitti Nur Muhammad Nur (asal Pandai Sikek, Tanah Datar)
  • Pendidikan: Dokter hewan, Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia (lulus 1963)
  • Keluarga: Menikah dengan Esiyati Yatim pada 1971, satu putra bernama Bram Ismail
  • Dikenal sebagai: Tokoh Angkatan '66, penyair, editor, dan budayawan

Anak Sulung yang Tumbuh di Banyak Kota

Taufiq lahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara dalam keluarga ulama. Ayahnya adalah tokoh Muhammadiyah, ibunya berasal dari Pandai Sikek. Masa kecilnya tidak menetap: ia bersekolah rakyat di Solo, Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta, lalu lulus dari SR Muhammadiyah Ngupasan pada 1948.

Perpindahan itu berlanjut ke SMP di Bukittinggi dan SMA di Bogor serta Pekalongan, tempat ia lulus pada 1956. Rangkaian kota dan sekolah tersebut bisa dibaca sebagai latihan awal membaca lingkungan baru, kemampuan yang kelak berguna bagi seseorang yang harus bergaul dengan seniman, birokrat, hingga korporasi.

Setahun setelah lulus SMA, ia berangkat ke Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, lewat program pertukaran pelajar American Field Service. Ia termasuk angkatan pertama dari Indonesia, dan tinggal di sana pada 1956-1957. Sepulang dari Amerika, ia masuk Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia, kini IPB University.

Ketika Ilmu Hewan Bertemu Politik Kebudayaan

Tahun 1963 menjadi simpul penting. Taufiq menyelesaikan studi dan resmi menjadi dokter hewan, tetapi di tahun yang sama ia menandatangani Manifesto Kebudayaan yang menentang subordinasi seni terhadap politik. Konsekuensinya nyata: ia kehilangan jabatan sebagai dosen di IPB.

Alih-alih surut, ia justru bergerak ke dunia kata. Pada 1966 ia ikut mendirikan majalah sastra Horison dan menerbitkan Tirani serta Benteng, dua kumpulan puisi yang lahir dari gelombang demonstrasi mahasiswa. Dari situ namanya melekat sebagai salah satu tokoh utama Angkatan '66.

Yang jarang disorot adalah kiprahnya sebagai pembangun institusi. Ia turut mendirikan Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, lalu pernah menjabat Direktur TIM dan Rektor LPKJ. Ia juga menjadi Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia pada 1978-1990. Kombinasi itu menunjukkan seorang penyair yang paham cara kerja organisasi, bukan hanya cara merangkai bait.

Fakta dan Kejadian Penting

  • 1956-1957: Pertukaran pelajar AFS ke Whitefish Bay High School, Milwaukee, sebagai angkatan pertama dari Indonesia
  • 1963: Lulus sebagai dokter hewan, menandatangani Manifesto Kebudayaan, dan kehilangan jabatan dosen di IPB
  • 1966: Mendirikan majalah Horison dan menerbitkan Tirani serta Benteng
  • 1971-1972 dan 1991-1992: Mengikuti International Writing Program, University of Iowa
  • 1978-1990: Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia
  • 1998: Menerbitkan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
  • 2016: Menerima Bintang Budaya Parama Dharma

Suara yang Menolak Pensiun

Karyanya merentang luas. Ada Puisi-Puisi Sepi (1970), Sajak Ladang Jagung (1974), hingga Kenalkan, Saya Hewan, puisi anak-anak yang judulnya terasa seperti kedipan mata seorang dokter hewan. Ia juga menulis lirik lagu untuk grup musik Bimbo, dan bersama D.S. Moeljanto menyusun Prahara Budaya. Puisinya diterjemahkan ke bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Cina, dan sejumlah bahasa daerah.

Pengakuan datang dari banyak arah, antara lain S.E.A. Write Award dari Kerajaan Thailand (1994) dan Doctor Honoris Causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003). Di usia 91 tahun, ia masih disebut sebagai "penyair partisan" yang suaranya terus dipakai membaca kritik sosial dan nasionalisme.

Bagi pembaca hari ini, kisahnya menawarkan cara pandang berbeda. Kebudayaan tidak hanya digerakkan oleh mereka yang lahir dari ruang sastra, tetapi juga oleh orang dari bidang lain yang bersedia membangun rumahnya.