Pemerintah Jamin Stok BBM Aman dan APBN Tetap Perkasa

Stok BBM

nusantaramerdeka.id — Pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi meskipun gejolak harga energi global akibat konflik Timur Tengah mulai menekan ekonomi dunia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih memiliki ruang yang cukup kuat sebagai bantalan ekonomi. Purbaya menegaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat agar tidak terhempas oleh fluktuasi harga minyak mentah yang sempat menyentuh angka US$100 per barel.

“APBN kita masih tahan. Saya tidak akan ubah APBN atau subsidi BBM sampai titik harga minyak benar-benar sangat tinggi,” tegas Purbaya Yudhi Sadewa dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (26/3/2026).

Pernyataan ini sekaligus membantah kekhawatiran publik mengenai potensi pemangkasan anggaran program strategis nasional lainnya. Purbaya menyebutkan bahwa semua perhitungan fiskal dilakukan secara presisi dan terukur oleh tim teknokrat pemerintah.

Ketahanan Energi dan Pengalihan Impor

Senada dengan Menkeu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjamin pasokan energi nasional dalam posisi aman terkendali. Pemerintah telah memetakan stok BBM secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada kelangkaan di tengah masyarakat akibat situasi geopolitik yang memanas.

Baca Juga :  BPH Migas Batasi Pembelian BBM Subsidi 50 Liter Mulai 1 April 2026

Bahlil mengungkapkan bahwa Indonesia telah melakukan langkah antisipatif dengan mengalihkan sumber impor minyak mentah dari jalur konflik di Selat Hormuz ke wilayah lain yang lebih stabil. Hal ini dilakukan guna menjaga kepastian pasokan bensin dan LPG yang sebagian masih didatangkan dari luar negeri.

“Alhamdulillah, atas arahan Presiden dan dukungan rakyat, BBM kita baik bensin, solar maupun LPG terpenuhi dengan baik,” ujar Bahlil Lahadalia pada Jumat (27/3/2026).

Swasembada Solar dan Stabilitas Harga

Pemerintah menekankan bahwa untuk jenis Solar, kebutuhan nasional saat ini sudah 100 persen dipenuhi dari produksi dalam negeri tanpa bergantung pada impor. Keunggulan domestik ini menjadi salah satu faktor kunci mengapa Indonesia mampu menahan harga di saat 95 negara lain sudah menaikkan harga BBM mereka.

Purbaya menambahkan bahwa keberhasilan menstabilkan ekonomi di tengah krisis bukan sekadar laporan formalitas untuk menyenangkan pimpinan. Menurutnya, pengalaman Indonesia melewati krisis energi tahun 2008 dan 2014 menjadi modal kuat dalam mengelola risiko fiskal saat ini.

Baca Juga :  Pajak Naik, Diplomasi Dagang Diperluas, Ekonomi 2025 Disetel Ulang

“Jadi kita bukan ABS (Asal Bapak Senang), tapi semua terhitung dengan baik. Kita tidak pernah panik, tapi kita approach terukur,” pungkas Purbaya pada Jumat (27/3/2026).

Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebih atau panic buying. Aparat penegak hukum akan menindak tegas pihak-pihak yang mencoba melakukan penimbunan BBM subsidi di tengah situasi transisi energi global ini.***