Karhutla Kalimantan Makin Meluas, Hotspot Naik Lebih dari 4 Kali Lipat

Karhutla di Kutai Barat

NusantaraMerdeka.idKarhutla di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan memasuki fase eskalasi pada Agustus 2026. Jumlah hotspot di tiga provinsi itu melonjak dari 123 titik pada 17 Agustus menjadi 518 titik pada 19 Agustus, di tengah puncak musim kemarau dan kondisi yang semakin kering.

Karhutla Kalimantan Melonjak Saat Musim Kemarau

Kenaikan hotspot tersebut terjadi setelah jumlah titik panas sebelumnya relatif rendah. Rata-rata hotspot pada April-Juni tercatat di bawah 74 titik per bulan sebelum meningkat menjadi 615 titik pada Juli.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan kenaikan paling tajam, dengan 778 hotspot atau sekitar 65 persen dari total hotspot di Kalimantan pada periode yang dicatat dalam naskah. Kondisi ini membuat provinsi tersebut mendapat peringatan potensi karhutla tinggi dari BMKG pada 6-12 Agustus.

Di Kalimantan Tengah, BPBD mencatat 645 hotspot hingga 11 Agustus. Angka itu kemudian meningkat menjadi 1.026 hotspot per 18 Agustus, bersamaan dengan 46 kejadian karhutla yang membakar lahan seluas 148,71 hektare.

Baca Juga :  Bakung Menguat, BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi

Asap Mulai Mengganggu Aktivitas Masyarakat

Karhutla juga berdampak langsung pada aktivitas warga. Di Palangka Raya, BPBD mencatat 298 kejadian karhutla sepanjang 1 Juni-19 Agustus dengan luas lahan terbakar mencapai 261,41 hektare, terutama di Kecamatan Jekan Raya dan Sabangau.

Di Pontianak, pembelajaran tatap muka untuk siswa TK, PAUD, SD, dan SMP dihentikan sementara dan dialihkan secara daring. Kebijakan ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan luas lahan terbakar, tetapi juga mulai memengaruhi kegiatan pendidikan.

Dampak asap bahkan meluas hingga Malaysia. Pada 20 Agustus, sebanyak 108 sekolah di Serian, Sarawak, ditutup setelah indeks pencemaran udara melewati angka 200, dengan Tebedu mencapai 212 dan Serian 202.

Penanganan Karhutla Terus Dilakukan

Pemerintah pusat menetapkan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan sebagai tiga dari enam provinsi prioritas nasional dalam penanganan karhutla 2026. Penanganan melibatkan BNPB, BMKG, Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api.

Operasi Modifikasi Cuaca juga telah dilakukan sebanyak 13 sorti penerbangan dengan estimasi curah hujan buatan 4,8 juta meter kubik. Namun, kondisi kering di Kalimantan Tengah membuat peluang pelaksanaan operasi lanjutan hingga akhir Agustus dinilai sangat minim.

Baca Juga :  Karhutla Bromo Meluas hingga 127 Hektare, Akses Wisata Dibatasi

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat bahkan memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 14 hari, mulai 21 Agustus hingga 4 September 2026. Perpanjangan dilakukan karena kebakaran masih berlangsung sementara pasokan air untuk penanganan semakin menipis.

Di sisi lain, Greenpeace Indonesia mencatat 592 titik sumber asap di Kalimantan untuk periode 11-16 Agustus, dengan 455 titik berada di lahan gambut. Data tersebut kembali menunjukkan bahwa persoalan karhutla masih menjadi ancaman serius ketika musim kemarau berlangsung.