Ekbis

Saham Alphabet Anjlok 12,6% Usai Belanja AI Bengkak, Arus Kas Minus

Kantor Google
Kantor Google

Saham Alphabet anjlok sekitar 12,6% menjadi US$ 283,82 per saham pada Kamis (29/10/2026) waktu Amerika Serikat (AS), sehari setelah induk usaha Google itu merilis laporan keuangan kuartal III-2026. Belanja modal untuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melonjak 114,4% dan arus kas bebas berbalik negatif, sementara monetisasi AI Mode di layanan pencarian belum sekuat pencarian tradisional.

Saham kelas A Alphabet berkode GOOGL. Menurut perhitungan Yahoo Finance, sekitar US$524 miliar atau Rp 9.505,36 triliun (kurs US$1 = Rp 18.140) kapitalisasi pasar perusahaan terhapus pada titik terendah perdagangan hari itu. Angkanya bisa bergeser mengikuti harga saham sepanjang sesi.

Padahal, pendapatan Alphabet tumbuh hampir 25% dan laba operasinya naik sekitar 30%. Pendapatan kuartal ini mencapai US$ 127,58 miliar, naik dari US$ 102,35 miliar setahun sebelumnya, tetapi sedikit di bawah konsensus analis FactSet sekitar US$127,96 miliar hingga US$127,97 miliar. Laba per saham dilusian (diluted earnings per share/EPS) tercatat US$ 2,12, jauh dari perkiraan US$ 3,01 sampai US$ 3,02.

Selisih itu sebagian datang dari luar bisnis inti. Alphabet mencatat kerugian investasi saham sekitar US$ 8,7 miliar, yang menurut manajemen terutama berasal dari penurunan nilai kepemilikan di SpaceX. Setelah pajak, pos ini memangkas laba bersih sekitar US$ 6,7 miliar dan EPS US$ 0,55, sedangkan laba operasi tetap naik ke US$40,58 miliar.

Sorotan lain tertuju ke bisnis pencarian. Pendapatan Google Search & other tumbuh 12% menjadi US$63,35 miliar, melambat dari sekitar 17% pada kuartal sebelumnya.

CEO Alphabet Sundar Pichai menyebut pertumbuhan jumlah pencarian tahunan berada di level tertinggi dalam lima tahun. Pertanyaan lewat AI Mode rata-rata tiga kali lebih panjang dibanding pencarian biasa. Namun Chief Business Officer Google Philipp Schindler mengakui bahwa makin banyaknya pemakaian AI Mode ikut memengaruhi hasil Search, sebab monetisasinya masih lebih rendah.

Schindler juga menyebut kurs sebagai faktor terbesar di balik perlambatan itu. Faktor lain adalah perubahan belanja pengiklan, termasuk normalisasi anggaran media dan hiburan setelah Piala Dunia. Google kini memperluas iklan di AI Overviews dan AI Mode, termasuk ke pasar internasional.

Belanja modal (CAPEX) Alphabet menyentuh US$51,36 miliar, naik 114,4% secara tahunan. Angka itu melampaui arus kas operasi US$42,29 miliar, sehingga arus kas bebas negatif US$9,07 miliar. Sebagian besar dana mengalir ke server, perangkat jaringan, dan pusat data pendukung AI.

Arus kas juga tertekan oleh penumpukan persediaan untuk penjualan sistem Tensor Processing Unit (TPU) dan pembayaran tunai denda Komisi Eropa sebesar US$ 5,2 miliar. Alphabet mempertahankan panduan CAPEX 2026 di kisaran US$ 195 miliar hingga US$205 miliar. Pengeluaran diperkirakan naik signifikan lagi pada 2027, disertai tambahan beban penyusutan dan biaya operasional pusat data.

Google Cloud menjadi penopang. Pendapatannya US$30,71 miliar, naik 102,6%, dengan laba operasi sekitar US$ 11,12 miliar dari US$ 3,59 miliar setahun lalu. Permintaan infrastruktur dan solusi AI jadi penggerak utama, ditambah penjualan sistem TPU.

Alphabet mulai memakai kapasitas komputasi pihak ketiga pada akhir kuartal III dan berencana menambah porsinya pada kuartal IV. Manajemen memperkirakan langkah itu menekan margin cloud dalam jangka pendek.