NusantaraMerdeka.id – Destry Damayanti menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto mengusulkannya sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif kepada DPR RI. Ekonom yang kini menjabat Deputi Gubernur Senior BI itu memiliki perjalanan karier panjang di sektor keuangan, mulai dari Kementerian Keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga Bank Indonesia.
Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI
Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengirimkan Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI pada Senin (10/8/2026) untuk mengusulkan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI definitif. Pengajuan tersebut dilakukan setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari posisi Gubernur BI pada akhir Juli 2026.
Destry kemudian menjalankan tugas sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI sejak 27 Juli 2026. Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 26 Juli, posisi tersebut disepakati untuk dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior sesuai mekanisme yang berlaku.
Pencalonan ini membuat sosok Destry kembali menjadi perhatian publik. Jika mendapat persetujuan DPR, ia berpeluang menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia secara definitif.
Posisi tersebut sekaligus menempatkan Destry pada salah satu jabatan ekonomi paling strategis di Indonesia. Bank Indonesia memiliki tugas menjaga stabilitas nilai rupiah, sistem pembayaran, serta turut menjaga stabilitas sistem keuangan.
Perjalanan Destry Damayanti dari UI hingga Bank Indonesia
Destry Damayanti lahir di Jakarta pada 16 Desember 1963. Ia menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia (UI), kemudian melanjutkan pendidikan ke Cornell University, New York, Amerika Serikat, dan meraih gelar Master of Science (M.Sc.) bidang Regional Science pada 1992.
Kariernya dimulai dari lingkungan akademik. Pada 1987-1990, Destry menjadi peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI sebelum melanjutkan perjalanan profesionalnya di Kementerian Keuangan pada 1992-1997.
Pengalaman di sektor swasta kemudian memperluas rekam jejaknya. Destry bekerja sebagai ekonom di Citibank pada 1997-2000, lalu menjadi Senior Economic Adviser untuk Duta Besar Inggris di Indonesia pada 2000-2003.
Setelah kembali ke lingkungan akademik sebagai peneliti dan pengajar UI pada 2005-2006, karier Destry berlanjut di sektor pasar keuangan. Ia dipercaya sebagai Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada 2005-2011 dan kemudian menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri pada 2011-2015.
Pengalaman tersebut membuat Destry tidak hanya berkutat pada teori ekonomi, tetapi juga bersentuhan langsung dengan dinamika pasar keuangan dan dunia perbankan. Pengalamannya kemudian berlanjut ke pemerintahan dan lembaga keuangan negara.
Masuk LPS Sebelum Berlabuh di Bank Indonesia
Pada 2014-2015, Destry dipercaya menjadi Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN. Setahun kemudian, ia masuk ke Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai anggota Dewan Komisioner untuk periode 2015-2019.
Pengalaman di LPS menjadi bagian penting dalam perjalanan Destry karena lembaga tersebut berkaitan langsung dengan stabilitas sistem perbankan dan kepercayaan masyarakat terhadap sektor keuangan. Setelah menyelesaikan masa tugas di LPS, Destry kemudian masuk ke jajaran pimpinan Bank Indonesia.
Destry pertama kali ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior BI melalui Keputusan Presiden Nomor 74/P Tahun 2019. Ia dilantik pada 7 Agustus 2019 untuk masa jabatan 2019-2024.
Jabatan tersebut kemudian berlanjut ke periode kedua. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 74/P Tahun 2024, Destry kembali ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior BI untuk periode 2024-2029 dan mengucapkan sumpah jabatan pada 7 Agustus 2024.
Destry Damayanti Sudah Lama Berada di Lingkar Kebijakan Moneter
Posisi Deputi Gubernur Senior menempatkan Destry di jantung perumusan kebijakan Bank Indonesia. Dalam kapasitas tersebut, ia mendampingi Gubernur BI dalam berbagai kebijakan yang berkaitan dengan moneter, stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran, ekonomi-keuangan digital, serta koordinasi dengan pemerintah dan otoritas sektor keuangan.
Rekam jejak itu juga terlihat dari sejumlah gagasan yang pernah disampaikan Destry. Saat menjalani proses sebagai calon Deputi Gubernur Senior pada 2024, ia memaparkan gagasan “Bank Indonesia: Sinergi Untuk Mendukung Indonesia Maju” yang mencakup stabilitas rupiah, kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran digital, pasar keuangan, hingga pengembangan UMKM.
Dengan pengalaman tersebut, pencalonan Destry bukanlah kemunculan baru di lingkungan bank sentral. Ia telah berada di dalam struktur BI sejak 2019 dan kini menduduki posisi Deputi Gubernur Senior untuk periode kedua.
Dari Pjs Gubernur BI ke Kandidat Definitif
Penunjukan Destry sebagai Pjs Gubernur BI terjadi setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Pemerintah menerima pengunduran diri tersebut pada 27 Juli 2026 dan kemudian menyerahkan pelaksanaan tugas gubernur sementara kepada Deputi Gubernur Senior.
Dalam waktu kurang dari dua pekan, posisi sementara itu berkembang menjadi pencalonan definitif. Presiden Prabowo mengusulkan Destry sebagai satu-satunya nama calon Gubernur BI kepada DPR pada 10 Agustus 2026.
Perubahan status tersebut membuat pengalaman Destry di BI menjadi semakin relevan. Ia tidak hanya memahami mekanisme internal bank sentral, tetapi juga telah menjalani dua periode sebagai Deputi Gubernur Senior sebelum dipercaya menjalankan tugas gubernur sementara.
Di sisi lain, proses pencalonan tetap harus melewati DPR. Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Muhammad Hanif Dhakiri menyatakan uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test akan dijadwalkan setelah masa reses DPR berakhir pada 14 Agustus 2026.
Dengan demikian, perjalanan Destry menuju kursi Gubernur BI definitif belum selesai. Tahap berikutnya berada di DPR melalui mekanisme uji kepatutan dan kelayakan sebelum keputusan mengenai pengangkatannya ditetapkan.